KEDAS, Program Sosial dengan Nilai Lokal, Berjiwa Keberlanjutan

  • 02 Agt 2025 15:31 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Denpasar: Ketika pagi Bali masih diselimuti kabut tipis dan wangi dupa yang belum sepenuhnya sirna dari udara, seorang pemuda memilih untuk memulai harinya bukan dengan kenyamanan secangkir kopi, tetapi dengan merangkai sisa-sisa persembahyangan bunga layu, serpihan janur, dan batang dupa yang telah membara semalam. Dialah Putu Ryan Indra Pratama, Bagus Denpasar 2025, sosok mahasiswa aktif di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, program studi Manajemen, yang menghidupi ilmunya dalam praktik nyata.

Berbekal semangat belajar dan tanggung jawab sebagai duta budaya muda Denpasar, Ryan merajut gagasan bisnis sosial yang berakar pada nilai-nilai lokal serta berjiwa keberlanjutan. Ia bukan sekadar akademisi atau juru bicara tradisi, melainkan representasi generasi muda Bali yang tak hanya memeluk budaya, tapi juga membaca ulang maknanya dengan kacamata zaman. Baginya, identitas bukanlah sesuatu yang diam, tetapi tumbuh dan harus terus diperjuangkan dalam wujud yang relevan.

Pagi itu, saat lembayung belum sepenuhnya pudar, Ryan terlihat khusyuk memilah sisa persembahyangan. Di tangannya, limbah bunga, dupa, dan janur bukanlah sampah semata, melainkan awal dari perubahan.

“Saya selalu percaya bahwa tidak ada yang benar-benar berakhir sia-sia di Bali. Bahkan sisa upacara pun menyimpan potensi untuk disucikan kembali, bukan lewat ritual, tapi lewat tindakan,” ungkapnya.

Sejak kecil, Ryan tumbuh di lingkungan yang menjunjung tinggi tradisi. Ia melihat keindahan dalam setiap prosesi adat, namun seiring waktu, ia mulai menyadari sisi lain yang kerap terabaikan: sampah organik yang terus bertambah, terutama dari kegiatan persembahyangan harian masyarakat Bali. Data dari Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali mencatat bahwa 68,82% dari total sampah di Bali merupakan sampah organik, dan sebagian besar bersumber dari rumah tangga serta kegiatan adat.

“Awalnya saya tidak berpikir sejauh itu, tapi ketika saya tahu sebagian besar sampah di Bali justru datang dari hal-hal yang kita anggap suci, saya jadi bertanya: mungkinkah ada cara untuk tetap menghormati budaya tanpa mengabaikan lingkungan?” tutur Ryan.

Pertanyaan itu menjadi benih lahirnya KEDAS, sebuah gerakan yang ia gagas sebagai jawaban atas keresahannya. Dalam bahasa Bali, kedas berarti bersih, namun dalam visi Ryan, KEDAS bukan hanya sekadar soal kebersihan fisik, melainkan tentang cara hidup yang selaras antara budaya, ekologi, dan ekonomi.

Melalui program ini, Ryan menciptakan “Aroom”, produk aromaterapi ramah lingkungan yang terbuat dari limbah sisa persembahyangan. Bunga canang yang layu, abu dupa, serta serpihan daun disulap menjadi bahan baku utama, yang kemudian dikombinasikan dengan bubuk cendana (Santalum album L). Hasilnya adalah produk aromaterapi khas Bali yang tidak hanya menenangkan, tetapi juga membawa filosofi keberlanjutan.

“Saya beri nama Aroom, dari kata ‘aroma’ dan ‘room’. Harapannya, setiap ruang yang kita masuki bisa membawa ketenangan, dan sekaligus menyampaikan pesan: bahwa dari sesuatu yang sederhana pun, kita bisa mencipta kebaikan,” ujarnya sambil menunjukkan botol kecil aromaterapi yang telah dikemas elegan.

Dengan latar pendidikannya di bidang manajemen, Ryan tidak hanya fokus pada produk, tetapi juga pada model bisnis yang berkelanjutan. Ia memanfaatkan pendekatan ekonomi sirkular untuk menciptakan nilai tambah dari limbah organik, sekaligus memperluas peluang usaha lokal berbasis kearifan tradisional. Aroom kini telah dipasarkan secara terbatas di lingkungan sekitarnya dan sedang dalam proses pengajuan hak paten. Ia berharap kelak Aroom dapat bersaing secara sehat di pasar lokal maupun nasional sebagai produk wirausaha sosial berbasis budaya Bali.

Namun bagi Ryan, nilai dari Aroom tidak hanya pada produk akhirnya, melainkan juga dalam proses edukasi dan pelibatan komunitas. Ia membuat konten edukatif bernama “JELAJAH”, yang diunggah melalui media sosial pribadinya. Dalam serial ini, Ryan mendokumentasikan proses pembuatan Aroom, menelusuri komunitas pengolah sampah, hingga mengajak anak-anak untuk mengenal pentingnya memilah dan mengelola limbah organik.

“Edukasi adalah kunci. Saya ingin anak-anak dan pemuda di Bali tahu bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas besar yang sulit. Mulai dari rumah, dari canang yang kita buang setiap hari, itu sudah langkah awal,” katanya penuh semangat.

Program KEDAS selaras dengan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 09 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah, serta mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) dan poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Inisiatif ini menjadi bukti bahwa inovasi lokal mampu menjadi bagian dari solusi global, terlebih jika dikelola dengan wawasan bisnis dan semangat kolaborasi.

“Saya membayangkan Aroom tidak hanya dijual sebagai produk aromaterapi, tapi sebagai cerita. Cerita tentang anak muda Bali yang mencintai budayanya dan tetap peduli pada alam. Saya ingin KEDAS hadir di sekolah-sekolah, desa adat, dan pasar lokal bukan sebagai kampanye, tapi sebagai gaya hidup.” ungkapnya

Ia juga berharap akan muncul lebih banyak wirausaha muda yang bergerak dengan kesadaran budaya dan lingkungan, menciptakan usaha yang bukan hanya berorientasi keuntungan, tetapi juga mengusung tanggung jawab sosial.

Sebagai penutup, Ryan mengajak seluruh masyarakat untuk bergerak bersama. Dengan penuh keyakinan, ia menyampaikan semboyan yang kini menjadi napas programnya:

“Ngiring Ganggas, Ngiring Lagas, Ngaryanin Gumi Sane KEDAS.”

(Mari melangkah, mari bergerak, mari bersama-sama ciptakan bumi yang bersih dan harmonis).

*Penulis: Ni Putu Kiara Praba Elysia (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kota Denpasar).


Rekomendasi Berita