Dari Celengan Plastik, Menabung Harapan untuk Lebih Baik

  • 02 Agt 2025 15:05 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Gianyar: Suara uang receh yang jatuh ke dalam celengan mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Tapi bagi Ni Putu Mira Marjaya Putri Jayaningsih, mahasiswi Jurusan Akuntansi Universitas Udayana yang juga menyandang gelar sebagai Jegeg Kabupaten Gianyar 2025, suara itu adalah tanda langkah kecil menuju masa depan yang lebih terencana. Lewat advokasi bertajuk The Guardians of Harmony, Mira mengajak anak-anak dan keluarga untuk belajar menata keuangan sejak usia dini. Baginya, harmoni bukan hanya tentang ketenangan, tapi keseimbangan antara harapan, usaha, dan perencanaan.

Mira tumbuh di tengah keluarga sederhana yang memberinya pelajaran berharga tentang arti perjuangan dan keterbatasan. Ia menyaksikan langsung bagaimana orang tua harus memutar otak untuk menyekolahkan anak-anaknya, dan betapa banyak anak yang harus menunda pendidikan hanya karena kendala biaya pendaftaran. Pengalaman itu yang memantik keresahannya, yang kini ia ubah menjadi semangat advokasi.

Dengan latar belakang akademik di bidang akuntansi, Mira merasa memiliki bekal untuk tidak sekadar prihatin, tapi juga bertindak. Ia merancang advokasinya dengan fokus pada edukasi keuangan seperti menabung, berhemat, dan perencanaan jangka panjang. Ia menekankan bahwa literasi keuangan tidak harus menunggu anak menjadi dewasa. Justru, kebiasaan kecil sejak dini,seperti menyisihkan uang jajan,bisa menjadi fondasi penting bagi kemandirian dan keberlanjutan pendidikan anak-anak ke depannya.

Pada tahun ini, Mira mulai mengimplementasikan programnya bekerja sama dengan Sekolah Desa Gianyar, tepatnya di Sekolah Desa Singakerta untuk melakukan edukasi literasi keuangan kepada anak anak yang masih duduk di jenjang Sekolah Dasar di Desa Singakerta. Sekolah Desa Gianyar sendiri merupakan program pembelajaran alternatif yang digagas oleh Jegeg Bagus Gianyar untuk memperkuat pendidikan karakter dan kearifan lokal di luar kurikulum formal sekolah.

Melalui pendekatan yang kontekstual dan menyentuh kehidupan sehari-hari, program ini menjadi wadah yang cocok untuk menyampaikan nilai-nilai penting seperti literasi keuangan. Mira menyadari bahwa pendekatan yang terlalu teknis atau serius tidak akan mudah dicerna anak-anak. Maka, ia menggabungkan edukasi finansial dengan pendekatan budaya dan nilai-nilai lokal. Ia memperkenalkan konsep “Jineng Bali” lumbung tradisional masyarakat Bali,sebagai simbol semangat menabung, berhemat, dan bersyukur. Ia sengaja mengaitkan hal ini dengan tagline Kabupaten Gianyar, “Living Heritage”, untuk menumbuhkan rasa keterhubungan anak-anak dengan tradisi mereka sendiri.

Anak-anak diajak berdiskusi ringan “Kenapa orang Bali dulu punya Jineng? Apa maknanya?” Lewat obrolan semacam ini, Mira membantu mereka menyadari bahwa semangat menabung dan hidup hemat bukanlah hal baru, melainkan bagian dari identitas kultural yang patut dipertahankan. Dari sini, Mira mengajak mereka membuat celengan dari botol bekas yang dibawa dari rumah. Selain mendorong kebiasaan menabung, kegiatan ini sekaligus menanamkan kesadaran akan pentingnya memanfaatkan kembali barang bekas untuk mengurangi sampah plastik.

Program ini juga melibatkan orang tua secara tidak langsung. Ketika anak-anak mulai terbiasa menabung, diskusi kecil pun muncul di dalam rumah. Mira berharap, kebiasaan anak-anak ini bisa memantik perubahan cara pandang orang tua terhadap perencanaan pendidikan. Inisiatif ini juga sejalan dengan salah satu program Pemerintah Provinsi Bali, yakni Satu Rumah Satu Sarjana (SKSS). Mira yakin, untuk mencapai satu sarjana di setiap rumah, perlu dimulai dari satu anak yang diajarkan menabung, dan satu orang tua yang terbuka untuk ikut belajar.

“Mungkin terlihat kecil,hanya celengan dari botol bekas. Tapi dari sana, mereka belajar bahwa merencanakan masa depan itu bisa dimulai dari yang paling sederhana,” tutur Mira. Ia tahu bahwa perjuangan ini masih panjang dan akan menemui banyak tantangan, terutama dalam hal persepsi masyarakat. Namun, ia percaya bahwa perubahan besar justru lahir dari kebiasaan kecil yang dijalani secara konsisten.

Lebih dari sekadar sosialisasi, advokasi ini adalah bentuk kehadiran nyata Mira di tengah masyarakat. Ia tidak ingin hanya dipandang sebagai Jegeg yang tampil di atas panggung, tetapi sebagai kakak yang peduli dan hadir untuk mendampingi.

Bagi Mira, celengan bukan hanya tempat menyimpan uang, tapi simbol dari harapan. Harapan bahwa setiap anak, dari latar belakang mana pun, bisa bermimpi, bisa merencanakan masa depan, dan bisa menjadi bagian dari perubahan. Ia membuktikan bahwa advokasi tidak selalu membutuhkan dana besar atau dukungan institusi kuat,tetapi yang dibutuhkan hanyalah kemauan, konsistensi, dan keberanian untuk memulai.

Mira percaya anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang siap secara mental, budaya, dan finansial untuk mengejar pendidikan dan masa depan mereka.Karena menjaga harmoni masa depan bukan tugas satu orang saja, kita semua adalah The Guardians of Harmony.

*Penulis: Ida Bagus Maha Dharma Manuaba (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Gianyar)


Rekomendasi Berita