Sepenuh Jiwa untuk Bali yang Lebih Bermakna
- 02 Agt 2025 14:59 WIB
- Denpasar
KBRN,Bangli: “Budaya tak mati, hanya diam. Dan dalam kesunyian itu, generasi mudalah yang bisa membangkitkannya kembali.”
Di tengah derasnya arus globalisasi dan hiruk-pikuk digitalisasi, sebuah gerakan sunyi namun berdaya hadir dari kalangan muda Bali. SATVIKA atau Sustainable Living Based on Tri Hita Karana tumbuh bukan dari panggung-panggung besar, tetapi dari kesadaran yang murni: menjaga keharmonisan hidup adalah bentuk ibadah, aksi nyata adalah bentuk cinta.
Sebuah advokasi yang ditawarkan oleh Made Ayu Nisa Striratna dari Universitas Udayana. Gerakan ini membawa wajah baru bagi advokasi lingkungan dan budaya di Bali. SATVIKA bukan sekadar proyek sosial, ia adalah panggilan jiwa generasi muda Bali untuk hidup selaras dengan nilai-nilai luhur warisan leluhur, khususnya filosofi Tri Hita Karana: keharmonisan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam semesta (Palemahan).
“SATVIKA adalah tentang menyadari bahwa bumi bukan untuk ditaklukkan, melainkan disyukuri dan dirawat dengan sepenuh hati,” ujar Nisa.
Bagi Nisa, SATVIKA tidak hadir sebagai gerakan reaktif, tetapi preventif dan transformatif. Di tengah ancaman perubahan iklim, krisis identitas budaya, dan gaya hidup konsumtif, SATVIKA mengajak generasi muda untuk kembali ke akar, bukan dengan cara mundur ke masa lalu, tetapi melangkah ke masa depan dengan membawa nilai-nilai lama yang dimurnikan.
Kata Satvika berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti jernih, terang, dan seimbang. Karakter ini mencerminkan misi utama gerakan: menciptakan generasi muda yang berpikir bijak, bertindak harmonis, dan berdampak positif bagi bumi dan budaya. Dari gerakan sederhana ini, lahirlah semangat besar untuk mengubah cara pandang generasi muda terhadap hidup berkelanjutan. SATVIKA menjelma menjadi ruang edukasi, aksi, sekaligus refleksi bagi siapa saja yang ingin hidup lebih bermakna, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk Bali yang lebih seimbang.
Dari sekian banyak isu yang bisa diangkat, Nisa memilih untuk menaruh perhatiannya pada satu hal yang sering terabaikan: budaya keseharian. Bagi Nisa, budaya Bali bukan hanya terletak di pura megah, gamelan megah, atau festival tahunan. Budaya sejati hidup di suara-suara kecil dan tindakan sederhana: cara orang tua menyapa anak-anak dengan bahasa alus, doa yang dibisikkan dalam hati saat membuat canang, cerita rakyat yang diwariskan saat duduk di beranda rumah.
“Kami ingin menjadikan budaya sebagai napas harian, bukan hanya warisan yang kita lihat dari jauh,” ujar Nisa dalam perbincangan hangat bersama tim relawan SATVIKA
Suara & Bhakti Budaya hadir sebagai gerakan yang menghidupkan kembali makna budaya dari dalam rumah. Lewat video pendek, puisi suara, ilustrasi digital, hingga rekaman percakapan, SATVIKA mengajak generasi muda untuk mendengar kembali akar mereka.
Lewat cerita, suara, dan aksi, program ini menyentuh kembali denyut tradisi yang sempat redup:
- Narasi Tradisi: Menggali cerita lokal tentang filosofi dan makna budaya keseharian.
- Suara Leluhur: Merekam suara para tetua menyampaikan kakawin, tembang, dan doa.
- Bhakti Harian: Membagikan praktik budaya sederhana sebagai aksi spiritual harian.
Semua dilakukan bukan untuk nostalgia, tetapi untuk menanamkan kembali nilai-nilai lokal dalam napas keseharian.
SATVIKA memaknai budaya bukan sebagai warisan yang dijauhkan oleh kesakralan, tetapi sebagai jalan hidup yang layak dijalani dan dihidupkan kembali. Suara & Bhakti Budaya menjadi jembatan bagi generasi digital untuk menjangkau tradisi dengan cara yang membumi, personal, dan relevan.
Gerakan ini bukan anti-modernitas. Ia justru mengajak kita berdialog dengan masa kini, dengan membawa bekal dari masa lalu. Karena hidup berkelanjutan tak hanya soal lingkungan, tapi juga tentang menjaga kesinambungan nilai.
“Kami ingin membuktikan bahwa generasi muda Bali tidak kehilangan jati diri, hanya butuh ruang untuk mengingat kembali.” Melalui kampanye #SATVIKAuntukBali dan #AksiNyataSepenuhJiwa, Suara & Bhakti Budaya telah menyentuh banyak hati. Bukan dalam bentuk viralitas semu, tapi dalam bentuk koneksi personal terhadap akar budaya sendiri.
SATVIKA mengajak kita kembali ke diri sendiri, ke rumah spiritual kita yang telah lama ditinggalkan. Di saat dunia bergerak cepat dan serba instan, langkah paling radikal mungkin adalah kembali mendengar suara leluhur, memberi bhakti lewat tindakan sederhana, dan menjadikan budaya sebagai cara hidup, bukan sekadar simbol. Karena sejatinya, menjaga budaya bukan soal seremoni besar. Tapi tentang menghormati yang kecil, yang sunyi, yang hampir kita lupakan
Dengan semangat #SATVIKAuntukBali dan #AksiNyataSepenuhJiwa, program ini membangun komunitas muda yang tidak hanya peduli, tetapi juga aktif, kreatif, dan reflektif. Mereka tidak menunggu perubahan, mereka menjadi perubahan itu sendiri.
Di saat dunia serba cepat dan banyak hal hanya dilihat sebatas tren, SATVIKA mengambil langkah paling radikal: menjaga yang sunyi, menciptakan yang bermakna.
Karena hidup berkelanjutan bukan hanya tentang plastik dan energi—tapi juga tentang menjaga bahasa ibu, merawat cerita leluhur, dan memberi makna pada hal-hal kecil yang dulu membentuk siapa kita.
*Penulis: Dewa Putu Merta Aditya (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Bangli)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....