Menyulam Aksara Bali Di Tengah Denyut Pariwisata

  • 02 Agt 2025 14:57 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Badung: Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang kian deras, upaya pelestarian budaya lokal menjadi semakin mendesak. Salah satu inisiatif yang lahir dari semangat tersebut adalah Semara Budaya, singkatan dari Sareng Melajahang Aksara lan Budaya. Inisiatif ini digagas oleh seorang anak muda dari Kabupaten Badung, Lifia Kristina, yang menjadikan aksara Bali sebagai bagian dari cerita hariannya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Dalam beberapa kali kesempatan, ia mengajar aksara Bali kepada anak-anak di Taman Bermain Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung. Pada bulan Juni, ia melaksanakan sebuah lokakarya bekerja sama dengan Pasraman Sadhu Gunawan di Desa Adat Kapal melibatkan anak-anak di Desa tersebut untuk belajar aksara Bali bersama.

Salah satu titik penting dalam perjalanan Semara Budaya adalah penyelenggaraan lokakarya bersama filolog ternama, Dr. I Made Sugi Lanus. Dalam forum tersebut, para peserta diajak menyelami makna filosofis, sejarah panjang, dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam aksara Bali. Lokakarya ini menjadi refleksi bersama bahwa aksara bukan sekadar simbol bahasa, melainkan jejak intelektual dan spiritual masyarakat Bali yang telah hidup selama berabad-abad. Melalui diskusi ini pula, Lifia menekankan bahwa memahami aksara adalah memahami jati diri dan akar budaya. Salah satu pernyataan Sugi Lanus yang selalu dibagikan Lifia kepada banyak orang adalah bahwa “setiap tempat memiliki budaya, tetapi tidak semua tempat memiliki aksara”. Sehingga sudah seharusnya kita yang memiliki lah yang melestarikan.

Pada suatu kesempatan, saat Lifia mengunjungi Umah Anyar, sebuah destinasi wisata berbasis budaya di Desa Adat Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tempat ini menawarkan pengalaman mengenal budaya Bali secara langsung kepada wisatawan. Namun, ia menemukan bahwa aksara Bali belum menjadi bagian dari pengalaman budaya yang ditawarkan. Melihat hal tersebut, ia pun mengambil inisiatif dengan menghadirkan media pembelajaran aksara Bali secara langsung kepada wisatawan. Ia mengajak para pengunjung untuk menuliskan nama mereka menggunakan aksara Bali di atas kertas dan tas kanvas yang telah disediakan. Ternyata, respons wisatawan sangat positif dan antusiasme mereka menunjukkan bahwa aksara Bali berpotensi menjadi daya tarik wisata yang unik dan edukatif. Melihat peluang ini, ia berkomitmen untuk memperluas inisiatif tersebut ke lebih banyak destinasi wisata di Bali. Semara Budaya tidak hanya menjadi wadah pembelajaran budaya, tetapi juga jembatan yang menghubungkan generasi muda, wisatawan, dan masyarakat adat dalam satu semangat pelestarian warisan leluhur.

Tak hanya bergerak di ranah luring, Lifia juga memanfaatkan media sosial sebagai ruang perlawanan budaya yang halus namun berdampak. Ia selalu menyisipkan aksara Bali dalam setiap unggahan di media sosial pribadinya, sebagai bentuk pengingat yang konsisten bahwa aksara Bali masih hidup. Baginya, jika seseorang melihat aksara itu lewat sebuah unggahan, meski hanya sekilas, setidaknya mereka akan tergerak untuk bertanya atau mengingat kembali tentang warisan budayanya. Di era digital yang serba visual, kehadiran aksara Bali di lini masa menjadi cara sederhana namun efektif untuk membangkitkan kesadaran kolektif.

Melalui inisiatif ini, aksara Bali diharapkan dapat kembali hidup dan berakar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, tidak hanya di lingkungan lokal tetapi juga dikenal luas hingga mancanegara. Semara Budaya adalah bentuk nyata bahwa pelestarian budaya tidak harus kaku dan terbatas pada ruang museum atau institusi pendidikan formal. Ia bisa hidup, dinamis, dan menjelma menjadi pengalaman bermakna di tengah geliat industri pariwisata Bali yang terus berkembang.

*Penulis : Putu Dhivana Putra Tangkas Kori Agung (Finalis Jegeg Bagus Bali 2025 – Duta Kabupaten Badung)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....