Siasati Kendala Modal Trilogi Animasi Andalkan Proyek Mandiri

  • 06 Jul 2026 08:28 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Trilogi Animasi yang berlokasi di Jalan WR Supratman No. 302, Kesiman Kertalangu, Denpasar, Bali menyiasati tantangan permodalan dengan mengandalkan eksekusi proyek independen dari para personelnya, untuk membiayai pengembangan produk kekayaan intelektual mandiri. Studio animasi rintisan lokal ini secara konsisten membagi fokus kerja tim, demi menjaga kesinambungan finansial, di tengah iklim pasar animasi nasional yang belum sepenuhnya matang.

Bisnis yang digawangi oleh tiga orang tim inti ini, menerapkan sistem operasional kantor yang fleksibel dari Senin sampai Jumat mulai pukul 10.00 hingga 17.00 Wita. Fleksibilitas jam kerja tersebut, disesuaikan dengan kebutuhan pemenuhan target proyek digital, mengingat sebagian besar klien mereka berbasis daring dari luar daerah hingga mancanegara.

Pemilik Trilogi Animasi, I Gede Adhi Prianatha, mengungkapkan bahwa pengumpulan modal usaha dari hasil pengerjaan proyek freelance individu, merupakan strategi utama yang mereka bawa sejak awal bergabung membentuk studio. "Pengumpulan modal itu dari project, sehingga kami harus memilih salah satu mau memenangkan project untuk mendapat uang, atau menggeser pengerjaan produk mandiri," ujarnya ketika berbincang dalam program Teras UMKM di Pro 4 RRI Denpasar pada Jumat, 3 Juli 2026.

Gede Adhi menjelaskan langkah taktis ini diambil karena pengembangan produk seperti konten YouTube edukasi anak dan gim, memerlukan biaya produksi yang sangat besar, serta waktu pengerjaan yang relatif panjang. Guna menjembatani keterbatasan sumber daya manusia dalam memproduksi produk tersebut, Trilogi Animasi kini aktif menggandeng talenta magang dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi.

Gede Adhi mengungkapkan skema kerja sama permodalan lewat skema hibah pemerintah ataupun kompetisi sejenis, sebenarnya tersedia di industri kreatif, namun memerlukan kematangan konsep yang harus dipresentasikan melalui proses pitching. Hambatan lain yang dihadapi studio rintisan ini adalah manajemen waktu, terutama ketika harus membagi fokus antara pengerjaan proyek pesanan yang ketat, dengan proses pengurusan legalitas Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Gede Adhi menambahkan bahwa hingga saat ini karya-karya yang mereka miliki memang belum terdaftar resmi secara hukum, akibat padatnya jadwal pemenuhan komitmen proyek luar yang tidak bisa ditinggalkan. "Ide cerita segala macam memang tiap orang berbeda, makanya ketakutan bermasalah di kemudian hari, membuat kami sedang mengusahakan untuk mulai mencicil pendaftaran HKI" tutup Gede Adhi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....