Tekan Dampak Inflasi, UMKM Terapkan Strategi Bertahan dan Mitigasi Risiko

  • 03 Jun 2026 13:39 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Ditengah ketidakpastian pasar dan menurunnya daya beli masyarakat, Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM) juga menghadapi tekanan dampak kenaikan inflasi. Untuk menekan dampak inflasi, pelaku UMKM beralih dari fase ekspansi ke strategi konsolidasi.

Pemilik PT. Hasta Karya Rotenbi Tas Anyaman Berkelanjutan Ni Komang Rosiani dikonfirmasi RRI.CO.ID di Denpasar, Rabu 3 Juni 2026 membenarkan, UMKM menjadi salah satu sektor yang terdampak inflasi. Kondisi itu melatarbelakangi pihaknya mengambil langkah strategi bertahan dan mitigasi risiko tinggi.

Fokusnya melalui efisiensi biaya operasional, diversifikasi produk bernilai margin tinggi, menjaga likuiditas arus kas, serta mengadopsi digitalisasi untuk memperluas pangsa pasar secara hemat. Rosiani mengatakan, strategi ini menjaga margin keuntungan dan daya saing tanpa membebani konsumen secara berlebihan.

“Usaha Mikro Kecil dan Menengah – UMKM menjadi sektor yang terdampak inflasi. Untuk menekan dampak inflasi, pelaku UMKM menerapkan strategi bertahan dan memitigasi risiko tinggi,” ujarnya.

Rosiani mengungkapkan, kendati harga bahan baku produk naik dampak inflasi, pelaku UMKM tidak serta merta bisa menaikkan harga produk. Alternatif yang biasa dilakukan yakni substitusi bahan baku lokal yang harganya lebih stabil dibandingkan barang impor untuk mengurangi biaya logistik.

Selain itu manajemen arus kas dengan ketat juga dilakukan untuk menghindari penumpukan stok barang, sehingga cepat balik modal. “Biasanya akan berpengaruh terhadap harga bahan baku produk, namun kami tidak bisa serta merta menaikkan harga barang. Alternatifnya mengurangi biaya logistic dengan tidak menggunakan bahan baku impor,” tuturnya.

Bali per Mei 2026 mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,42 persen dan inflasi tahunan 2,99 persen. Kondisi tersebut berdampak terhadap UMKM yang menerapkan strategi bertahan dan memitigasi risiko tinggi. Strateginya difokuskan pada efisiensi biaya operasional, diversifikasi produk bernilai margin tinggi, menjaga likuiditas arus kas, serta mengadopsi digitalisasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....