Omzet UMKM Soka Wangi Tembus Puluhan Juta Rupiah di Art Center
- 08 Mei 2026 10:55 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar- Pemilik UMKM Soka Wangi, Dewa Ayu Mertawangi ketika mengisi acara Teras UMKM di Pro 4 RRI Denpasar, Jum’at, 1 Mei 2026 mengungkapkan, partisipasi aktif dalam berbagai ajang pameran, mampu menaikkan omzet hingga dua puluh juta rupiah dalam periode tiga bulan terakhir. Capaian ini didominasi oleh penjualan produk perlengkapan upacara seperti bokor dan tempat bunga, serta tas etnik yang belakangan menjadi tren di kalangan pengunjung pameran di Art Center Denpasar.
Peningkatan omzet yang cukup drastis ini, dipicu oleh banyaknya kunjungan kerja dari berbagai kementerian dan tokoh nasional, yang memborong stok kerajinan batok kelapa sebagai oleh-oleh. Harga yang ditawarkan pun sangat variatif dan kompetitif, mulai dari lima belas ribu rupiah untuk perlengkapan sederhana, hingga tujuh ratus lima puluh ribu rupiah untuk paket keben eksklusif dengan kualitas premium.
Dewa Ayu menuturkan bahwa stabilitas pendapatan ini, tidak terlepas dari dukungan fasilitas pameran yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Bali. " Kunjungan dari kementerian perumahan itu sampai habis stok tas saya diborong, ada peningkatan omzet karena banyaknya kunjungan dinas dari luar ," ujar Dewa Ayu.
Selain melayani pembeli ritel, Soka Wangi juga mulai merambah pasar korporasi, dengan menyediakan parsel dan suvenir khusus untuk nasabah perbankan. Keragaman produk mulai dari tempat tisu, tempat permen, hingga wadah air mineral berbahan batok kelapa, membuat pesanan terus mengalir meski di luar musim upacara.
Meskipun menghadapi kendala bahan baku batok kelapa yang kini harus didatangkan dari luar Bali, Dewa Ayu memastikan kualitas warna dan motif tetap terjaga secara alami. Strategi pemilihan barang yang laku cepat atau fast moving, menjadi prioritas produksi agar perputaran modal usaha dapat berjalan dengan lebih efisien setiap bulannya.
Proses pengolahan dimulai dari pemilihan batok kelapa polos yang belum memiliki warna, yang kemudian diproses lebih lanjut oleh tangan-tangan terampil para pengrajin hingga menjadi berbagai produk kerajinan estetik. Dewa Ayu Mertawangi menjelaskan bahwa tingkat kesulitan tertinggi dalam pengolahan kerajinan ini terletak pada tahap pemberian warna dan motif agar sesuai dengan bentuk asli batoknya. "Batok kelapanya itu saya tidak bikin sendiri tapi langsung beli yang masih polos, barulah setelah itu saya beri pewarna agar tampilannya lebih menarik “ tutup Dewa Ayu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....