Harga Kedelai Melonjak! Ini Siasat Pengusaha Tahu Jembrana
- 04 Mei 2026 07:17 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jembrana: Harga kedelai yang merangkak naik kini mulai mencekik para pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Jembrana. Kenaikan harga bahan baku tersebut memaksa mereka memutar otak agar dapur produksi tetap mengepul tanpa harus kehilangan pelanggan.
Lina Fahmi, seorang pengusaha tahu di Banjar Terusan, Lelateng, Kecamatan Negara menuturkan, sejak harga kedelai melonjak dari Rp 9.700 menjadi Rp 11.000 per kilogram, margin keuntungan yang didapatnya kian menipis. Dengan rata-rata pengolahan 50 kilogram kedelai per hari, Lina kini harus menanggung biaya produksi hingga Rp 800.000, sementara omzet penjualannya tertahan di angka Rp1.000.000.
“Harga kedelai naik, plastik pembungkus tempe juga ikut naik. Jadi supaya tidak rugi, saya terpaksa mengurangi takaran sedikit. Kalau tidak begitu, bisa-bisa produksi berhenti,” ujar Lina, Sabtu 2 Mei 2026.
Bagi Lina, menaikkan harga jual adalah opsi terakhir yang sebisa mungkin dihindari. Saat ini, ia tetap mematok harga tempe di angka Rp5.000 per bungkus. Ia menyadari betul bahwa daya beli masyarakat sedang sensitif. Kenaikan harga sekecil apa pun berisiko membuat pelanggan lari.
Strategi "diet takaran" pun menjadi pilihan paling rasional meski berat dilakukan. Hal ini dilakukan semata-mata agar usaha yang menghasilkan sekitar 400 potong tahu dan 120 bungkus tempe setiap harinya ini tetap bisa bertahan di tengah situasi yang tidak menentu.
Kini, Lina dan para perajin tahu-tempe lainnya di Jembrana hanya bisa menggantungkan harapan pada pemerintah. Mereka berharap adanya intervensi harga agar komoditas kedelai kembali stabil, sehingga usaha mikro berbasis rumah tangga tidak gulung tikar akibat beban operasional yang kian tak terkendali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....