Pentingnya Bersyukur walaupun Sedikit
- 10 Mar 2026 11:47 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID., Denpasar : Di tengah menjamurnya pedagang pakaian adat online tidak mematahkan semangat penjual pakaian adat di Pasar Kreneng Kota Denpasar. Pedagang-pedagang di tempat tersebut tetap semangat dan selalu bersyukur untuk menjalankan usahanya. Hal itu disampaikan Pemilik Kios 52, Komang Artana yang ditemui oleh RRI di kiosnya belum lama ini.
Pemilik kios di Pasar Kreneng ini mengatakan walaupun toko online menjamur ia tetap menjual berbagai kain khas bali, seperti, kebaya dan kamen jadi. Namun, ia lebih banyak menjual kain atau baju khusus Perempuan.
“Perbedaan harganya tergantung bahan dan kualitas jahitannya. Contohnya, harga baju kebaya brokat tergantung jahitannya. Stik balik, satuannya harganya lebih mahal dari 125-150 ribu rupiah. Kalau kodian harganya juga berbeda. Kodian biasanya dibawah 100 ribu rupiah. Itupun tergantung bahannya juga. Ada yang metalik glossy dan metalik sparkle. Harga yang glossy 125 ribu. Metalik sparkle di atas 150 ribu, tutur Artana.
Sedangkan kebaya yang isi payet, saya biasanya beli yang kodian biar harganya lebih murah dan terjangkau. Kebaya payet yang kodian harganya sekitar 150 ribuan. Sedangkan jahitan pribadi taylor Bali itu beda harganya apalagi pakai payet jepang harganya juga berbeda. Ongkos payet saja bisa sampai 200 ribuan, lanjutnya.
“Kebaya yang saya jual ada brokat, bordiran dan bahan-bahan baju straight dan Moscref. Kalau moscref dari harga 50-60 ribu. Jika airflow, biasanya harganya lebih mahal dari 65-70 ribu rupiah”, tambahnya.
Lebih jauh Artana menyampaikan untuk kamen yang dijualnya ada straight, straight bordir, katun straight dan lembaran bordir. Harganya juga berbeda-beda. Yang lembaran bisa sampai 130-175 ribu rupiah. Yang straight tergantung benangnya juga, ada yang 120 ribu rupiah, 125 ribu rupiah hingga 150 ribu rupiah. Jadi harganya bervariasi. Kamen-kamen bordir ini datangnya dari Jawa, khususnya Tulung Agung. Cuma ada supliyernya di sini.
“Kamen endek juga saya jual, tetapi sedikit karena lama mutarnya. Tantangan sekarang ini kamen endek Bali kalah dengan mesin. Paling murah endek itu 150 ribu, itupun yang kualitas paling jelek. Barangnya saya dapat dari Klungkung, tetapi suplayer ada di sini. Untuk saput yang saya jual juga produk mesin, seperti bordiran. Stok di toko saya sekarang ini kebetulan baru semua karena pas baru datang. Dari motif lama ke motif baru sekarang pasti ada perbedaan harga. Yang lama biasanya harganya dikurangi. Saya ngambil barangnya dikit-dikit saja dari supliyer. 1 kali pengambilan barang dari supliyer biasanya sampai 50 juta bahkan lebih”, ungkapnya.
Sekarang pasar lagi sepi sehingga pendapatan saya perhari tidak tentu. Sekarang ini bisa jual barang 4 sampai 5 buah saja sudah beryukur. Penjualan perhari ini sebenarnya tidak bisa ditebak, kadang-kadang 500 ribu rupiah. Saya cukup-cukupkan saja untuk keperluan sehari-hari. Banyak-banyak beryukur saja, kalau sudah bersyukur pasti cukup, pungkasnya.