Kakereb Art Lestarikan Lukisan Sakral Bali
- 05 Feb 2026 17:36 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- I Wayan Sukra, seniman Kakereb asal Br. Tengah Kauh desa Peliatan Ubud, memperkenalkan karya lukisan sakral Bali dalam pameran Bulan Bahasa Bali,di Gedung Kriya Taman Budaya Art Centre Denpasar, Minggu, 1 Februari 2026. Melalui kegiatan tersebut, pria berusia 58 tahun ini menegaskan perannya, dalam menjaga keberlanjutan seni Kakereb sebagai bagian dari warisan budaya Bali.
Wayan Sukra mengatakan Kakereb merupakan kain penutup sarana sacral, yang berfungsi melindungi tapel, Rangda, Barong, serta sasuhunan di pura dari unsur negatif atau niskala. Fungsi perlindungan tersebut, diwujudkan melalui lukisan, aksara suci, dan rerajahan yang dibuat berdasarkan sastra keagamaan.
Di sela pameran, Wayan Sukra menjelaskan bahwa bentuk Kakereb tidak selalu menampilkan visual menyeramkan, melainkan disesuaikan dengan fungsi dan tujuan penggunaannya. “Kalau Kakereb untuk Barong, lukisannya biasanya Acintya dan tidak menyeramkan, tergantung kebutuhan dan permintaan,” ujarnya.
Ketertarikan Wayan Sukra membuat Kakereb bermula pada awal tahun 2000-an, ketika melihat sarana Barong dan Rangda di sebuah sanggar belum memiliki Kakereb. Dari percobaan sederhana melukis kain penutup tersebut, karyanya justru menarik perhatian dan mulai diminati masyarakat.
Dalam proses penciptaan Kakereb, Wayan Sukra mengaku tidak hanya mengandalkan keterampilan melukis, tetapi juga pemahaman sastra. Ia menggunakan buku-buku rerajahan sebagai pedoman, serta berkonsultasi dengan rohaniwan agar aksara suci yang dituliskan tidak keliru.
Wayan Sukra menambahkan etika spiritual juga menjadi bagian penting dalam pembuatan Kakereb. Setiap proses diawali dengan matur piuning, menggunakan canang sari atau pejati, sebagai bentuk permohonan izin secara niskala.
Wayan Sukra mengungkapkan usaha Kakereb Art mulai dirintis secara serius sekitar lima tahun terakhir, dengan dukungan anaknya yang membantu promosi melalui media sosial. Pemesanan tidak hanya datang dari Bali, tetapi juga dari umat Hindu yang tinggal di luar Bali.
Wayan Sukra mengatakan selain bernilai seni, Kakereb juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Ia mengaku pernah mendengar cerita pengguna Kakereb yang merasakan pengalaman niskala setelah menggunakannya, meskipun belum melalui proses pasupati.
Melalui pameran Bulan Bahasa Bali, Wayan Sukra berharap seni Kakereb semakin dipahami sebagai warisan sakral, bukan sekadar karya visual. “Harapan saya ke depan semakin banyak generasi muda mau belajar Kakereb sebagai bagian dari pelestarian budaya Bali,” ungkap Wayan Sukra.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....