Melestarikan Simbol Sakral Budaya Bali
- 25 Jan 2026 10:50 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Gianyar - Di tengah arus modernisasi, keberadaan pengerajin tedung di Desa Petak, Gianyar. Masih bertahan dan terus menjaga warisan budaya Bali. Tedung (payung) tradisional yang sarat makna simbolis dan religius, hingga kini tetap dibutuhkan dalam berbagai upacara adat dan keagamaan Hindu di Bali.
Salah seorang pengerajin di Desa Petak I nyoman Suta (78) mengatakan proses pembuatan tedung sangat membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta pemahaman akan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
"Semua prosesnya saya mengerjakan sendiri, mulai dari pemilihan bahan bambu, kain, hingga ornamen hiasan, semuanya saya kerjakan secara manual. Biasanya, permintaan tedung meningkat menjelang hari raya besar keagamaan dan musim upacara adat," tuturnya.
Ia juga mengatakan selain memiliki fungsi sakral, tedung juga menjadi sumber penghidupan baginya.
"Sejak tahun 2001 saya membuat tedung, dulu waktu bujangan sempat belajar di daerah Tegalalang, Gianyar. Astungkara saat ini menjadi salah satu sumber penghasilan untuk saya dan keluarga. Saya berharap, agar kerajinan tedung yang telah saya digeluti ini dapat terus dilestarikan oleh anak cucu saya di masa mendatang, karena tedung tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga mengandung makna spiritual dan identitas budaya yang menjadi warisan leluhur," imbuhnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....