Masalah di Balik Pertumbuhan Pesat Ekonomi Digital Asia Pasifik
- 30 Agt 2026 22:30 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Ekonomi digital Asia Pasifik sedang memasuki fase pertumbuhan besar yang ditopang oleh jaringan seluler, 5G, dan kecerdasan buatan (AI). Namun, semakin banyak aktivitas berpindah ke ponsel, semakin besar pula tantangan untuk memastikan masyarakat tetap merasa aman saat menggunakan layanan digital.
Laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026 dari GSMA memperkirakan teknologi dan layanan seluler akan menyumbang US$1,4 triliun bagi perekonomian kawasan pada 2030. Angka tersebut naik sekitar 40 persen dibandingkan kontribusi sebesar US$1 triliun pada 2025.
Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari semakin cepatnya internet di ponsel, tetapi juga dari semakin banyak kegiatan yang dilakukan melalui perangkat tersebut. Belanja, pembayaran, bekerja, mengakses layanan pemerintah, hingga menggunakan AI kini semakin bergantung pada koneksi seluler.
GSMA memproyeksikan jumlah koneksi 5G di Asia Pasifik mencapai 1,5 miliar pada 2030, atau sekitar separuh dari seluruh koneksi seluler di kawasan. Operator seluler juga diperkirakan mengeluarkan lebih dari US$200 miliar untuk belanja modal selama 2025-2030.
Namun, pertumbuhan konektivitas belum otomatis membuat semua orang ikut menikmati ekonomi digital. Lebih dari 700 juta orang dewasa di Asia Pasifik masih belum terhubung ke internet meskipun wilayah tempat tinggal mereka telah mendapat cakupan jaringan broadband seluler.
Di tengah peluang tersebut, kepercayaan masyarakat menjadi persoalan yang tidak kalah penting. Data GSMA menunjukkan proporsi konsumen ASEAN yang mengatakan pernah menjadi korban penipuan meningkat dari 31 persen pada 2024 menjadi 45 persen pada 2025.
Laporan GSMA tentang penipuan konsumen ASEAN yang diterbitkan pada 23 September 2025 juga menunjukkan bahwa penipuan semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat, termasuk melalui pesan, panggilan suara, dan media sosial. Dalam laporan itu, 68 persen korban pada 2025 mengatakan mereka mengalami kerugian uang.
Kondisi tersebut membuat keamanan digital tidak bisa lagi dianggap hanya sebagai urusan ahli teknologi. Jika masyarakat takut menggunakan layanan digital karena khawatir tertipu, pertumbuhan ekonomi yang mengandalkan konektivitas juga berpotensi ikut terganggu.
Perubahan ini membuat peran operator seluler ikut bergeser. Mereka tidak hanya dituntut menyediakan jaringan, tetapi juga mulai masuk ke layanan cloud, infrastruktur AI, keamanan, dan berbagai solusi digital untuk perusahaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....