Pegadaian Ajak Masyarakat Waspadai Penipuan Berkedok Investasi Emas

  • 20 Sep 2026 08:09 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Minat masyarakat berinvestasi tentu menjadi tren positif. Namun di balik animo itu, tidak sedikit warga justru terjerat penipuan berkedok investasi.

Janji imbal hasil hingga dua kali lipat dan pola pikir masyarakat kaya secara instan dari investasi menjadi pintu masuk berbagai modus penipuan. Terakhir, kasus penipuan oleh PT New Emas Now.

Modus yang digunakan yakni penawaran buyback emas dengan harga tinggi. Kasus yang sedang ditangani Polda Bali itu diduga menimbulkan kerugian terhadap puluhan masyarakat hingga Rp6,8 miliar.

Menyikapi fenomena tersebut, PT. Pegadaian (Persero) mengajak masyarakat untuk mewaspadai penipuan yang berkamuflase di balik kata investasi. Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil VII Denpasar, Edy Purwanto menyampaikan, kondisi ini disebabkan rendahnya literasi masyarakat soal investasi.

"Ini menjadi Pekerjaan Rumah kita, kita harus melakukan literasi lebih gencar lagi ke masyarakat," katanya saat Media Gathering di Denpasar, Kamis 17 September 2026.

Menurutnya, literasi yang rendah membuat masyarakat mudah tergoda iming-iming imbal hasil tinggi dari investasi. "Rata-rata yang tertipu iu diiming-imingi dengan membeli dua keping emas, akan dapat satu dengan kepingan yang sama," ujarnya.

"Iming-iming seperti itu kan kelihatannya menarik. Sementara emas kalau untuk investasi tidak bisa dalam jangka pendek," lanjutnya.

Edy memastikan, masyarakat tidak bisa kaya cepat dari investasi emas. "Kalau ingin kaya dari investasi emas itu salah. Karena dengan menyimpan atau investasi emas, tidak akan bikin orang kaya, ini harus dipahami," tegasnya.

"Kalau investasi emas bukan bikin kaya, tetapi menjaga nilai kekayaan kita," imbuhnya.

Jika ingin mendapatkan keuntungan dari emas, Edy menyarankan masyarakat untuk melakukan trading. Namun, masyarakat tidak bisa melakukan trading jangka panjang, melainkan per jam.

"Itu mainnya kalau mau kaya dari emas," bebernya.

Edy pun mengajak masyarakat untuk berpikir kritis ketika ditawari "investasi" dengan imbal hasil besar. Karena di balik itu, ia memastikan bakal ada risiko besar yang nantinya ditanggung.

"Risikonya berimbang. high risk high gain (risiko besar pertumbuhan besar), low risk low gain (risiko rendah pertumbuhan rendah). Kalau dibalik, no risk no gain (tanpa risiko tanpa pertumbuhan), itu pasti," katanya.

"Kalau ditawarkan untung, untung, untung, tanpa kerugian, itu pasti omong kosong. Karena kita memiliki konsep keseimbangan hidup dalam keseharian," imbuh Edy.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....