Kasus Rekening Aktivis Pati, Akademisi Soroti Stabilitas Perbankan

  • 27 Agt 2026 08:46 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, Supriyono alias Botok, yang disebut berisi dana pribadi dan donasi sekitar Rp80,9 juta, sempat tidak dapat digunakan untuk bertransaksi sejak Jumat, 21 Agustus 2026. Rekening tersebut digunakan untuk menampung donasi warga Pati yang akan mengikuti aksi di depan Gedung DPR RI pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Persoalan rekening tersebut kemudian memicu berbagai respons di media sosial, termasuk ajakan memboikot Bank Mandiri, menghapus aplikasi Livin' by Mandiri hingga menggunting kartu ATM. Pada Rabu, 26 Agustus 2026, Bank Mandiri menyatakan akan mengaktifkan kembali rekening tersebut setelah menerima arahan dari Komisi III DPR RI dan Polda Metro Jaya.

Wakil Rektor Bidang SDM, Keuangan, dan Operasional sekaligus Dosen Program Studi Ekonomi Universitas Warmadewa, Dr. Putu Ngurah Suyatna Yasa, S.E., M.Si., kepada RRI.CO.ID menilai persoalan tersebut dapat berdampak pada kepercayaan nasabah. Menurutnya, kekhawatiran mengenai privasi dan intervensi terhadap rekening dapat memunculkan respons psikologis di tengah masyarakat.

“Yang pertama kan terkait dengan kepercayaan nasabah atau trust. Jadi ada dampak psikologis dan respons nasabah di media sosial. Di antaranya kan ada kekhawatiran privasi dan intervensi. Jadi sebagian masyarakat sipil dan bagian hukum justru mengkritik langkah ini. Karena khawatir nanti bank terlalu mudah diintervensi,” ujarnya, 26 Agustus 2026.

Suyatna mengatakan, persoalan tersebut dapat berdampak lebih luas apabila kekhawatiran masyarakat mendorong penarikan dana secara bersamaan. Penarikan dalam jumlah besar dapat menekan likuiditas atau ketersediaan dana bagi perbankan.

“Kalau isu ini ditelan mentah-mentah, ini akan memicu penarikan uang secara serentak seperti yang kita sebut rush. Ini bisa menghadapi masalah serius likuiditas bagi perbankan, khususnya Bank Mandiri,” jelasnya.

Suyatna menambahkan, tekanan likuiditas juga dapat berdampak pada kemampuan bank menyalurkan kredit kepada masyarakat dan pelaku UMKM. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pembiayaan usaha apabila kemampuan bank menyediakan dana ikut menurun.

“Yang kedua juga bisa terjadi terganggu juga penyaluran kredit. Ketika likuiditas sebuah bank besar itu tertekan, jadi kemampuan bank memberikan modal bagi usaha, UMKM, dan masyarakat juga akan menurun,” katanya.

Menurut Suyatna, kondisi tersebut pada akhirnya dapat berdampak terhadap aktivitas perekonomian secara lebih luas. Karena itu, stabilitas dan kepercayaan terhadap perbankan perlu dijaga agar persoalan pada satu kasus tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

“Yang pada akhirnya bisa memperlambat roda ekonomi nasional yang saat ini sedang tumbuh sangat signifikan,” ujarnya.

Suyatna juga menyoroti sentimen negatif terhadap Bank Mandiri yang menurutnya sempat memberikan tekanan terhadap harga saham bank tersebut. Ia menilai dampak tersebut perlu diperhatikan karena Bank Mandiri merupakan salah satu bank besar yang memiliki peran dalam perekonomian.

“Yang ketiga juga sentimen saham. Akibat sentimen negatif ini harga saham Bank Mandiri juga sempat mengalami tekanan dan lorot tipis pada penutupan perdagangan. Ini juga sangat disayangkan,” katanya.

Suyatna menilai kasus tersebut menjadi perhatian bagi perbankan dan pihak terkait dalam mengambil langkah terhadap rekening nasabah. Menurutnya, setiap keputusan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap kepercayaan masyarakat dan kondisi perbankan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....