Mengenal Doom Spending Sebagai Pelarian Emosional Generasi Muda

  • 27 Mei 2026 10:04 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - istilah doom spending semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan generasi muda. Doom spending merupakan perilaku belanja impulsif yang dilakukan seseorang sebagai cara untuk meredakan stress atau kecemasan terhadap masa depan.

Saat ini banyak orang membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan mencari kesenangan sesaat di tengah ketidakpastian ekonomi. Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya tekanan sosial dan ekonomi yang dirasakan generasi muda.

Melansir dari treasury.com, doom spending sering muncul dalam bentuk belanja online spontan, membeli barang mewah, hingga pengeluaran kecil yang dilakukan terus-menerus tanpa perencanaan. Kebiasaan tersebut karena banyak orang merasa harus mengikuti tren, tampil menarik, atau memberikan self reward agar tetap merasa bahagia.

Ketika seseorang merasa cemas, lelah mental, atau kehilangan kontrol terhadap hidupnya, aktivitas belanja dapat memberikan sensasi senang sementara. Sayangnya, rasa puas tersebut biasanya tidak bertahan lama dan justru bisa memicu rasa bersalah setelahnya.

Melansir dari detik.com, generasi Z dan milenial disebut menjadi kelompok yang paling rentan mengalami doom spending. Mereka tumbuh dalam budaya digital yang sangat dekat dengan promosi, diskon, dan kemudahan transaksi online. Kondisi ini membuat proses belanja menjadi semakin cepat dan sulit dikontrol.

Dampak doom spending tidak hanya berkaitan dengan kondisi finansial, tetapi juga kesehatan mental. Kecemasan berkepanjangan sampai terjebak dalam siklus emosional bisa terjadi sebagai efek jangka panjang.

Untuk menghindari doom spending, penting bagi seseorang memahami hubungan emosional dengan uang dan kebiasaan belanjanya sendiri. Membuat anggaran bulanan, membatasi akses belanja, mengetahui kebetuhan diatas keinginan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....