IHSG Belasan Kali ATH dalam Dua Bulan
- 20 Nov 2025 12:34 WIB
- Denpasar
KBRN, Ubud : Sederet sentimen positif mendorong pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sempat menyentuh level terendah di angka 5.967,99 pada Rabu 9 April 2025, IHSG berhasil rebound ke rentang 7.000 pada pertengahan Mei 2025.
Meski masih dibayangi ketidakpastian geopolitik global, IHSG tetap mampu mencatatkan rekor baru (All Time High/ATH). Beberapa dorongan terhadap IHSG, di antaranya kebijakan pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
Pada perdagangan Kamis 20 November 2025, IHSG dibuka 8.407 dan ditutup di level 8.474 naik 0,81 persen di sesi pertama. Di tengah volatilitas pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkeyakinan IHSG akan menutup tahun 2025 dengan torehan positif.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi mengemukakan, IHSG mengalami kenaikan sebesar 18,57% (ytd) per 7 November 2025. Sedangkan kapitalisasi pasar saat ini menyentuh angka Rp15.319 triliun.
"Indeks (IHSG) kalau misalnya kita hitung, sepanjang tahun 2025 mencetak All Time High sebanyak tiga belas kali, tanpa kita sadari. Mungkin ini rekor yang luar biasa sekali," katanya kepada awak media belum lama ini.
"Bahwasanya untuk yang All Time High ini kita capai, mungkin dalam dua bulan terakhir ini 13 kali. Jadi luar biasa sekali," lanjutnya.
Di tengah pertumbuhan positif IHSG, Inarno mengakui perlu tetap adanya pendalaman pasar. Pada tahun 2026, pihaknya tetap fokus pada peningkatan free float dari 7,5% menjadi 10%.
"Dan tentunya kita akan upayakan paling tidak untuk yang IPO (Initial Public Offering) ke depannya itu kita harapkan harus minimal 10 persen, dan berikutnya 15 persen dan nantinya mengarah ke 25 persen," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman menyoroti soal volatilitas pasar di tahun 2026. Pihaknya menyebut, transaksi harian yang rata-rata menyentuh Rp14,5 triliun dan kini meningkat ke Rp16,6 triliun dalam tiga bulan terakhir harus tetap dijaga secara berkesinambungan.
"Kita perlu berkelanjutan. Walaupun saya selalu cerita tentang optimisme, tapi tahun depan kita harus tetap waspada. Terutama yang perlu saya ingatkan, kalau MSCI (Morgan Stanley Capital International) jadi menerapkan mengenai proposalnya. Ada potensi keluar dari Indonesia yang cukup besar," bebernya.
"Artinya ini jadi PR kita untuk bisa mudah-mudahan proposal MSCI. Itu yang masih ada tantangan di kita," lanjutnya.
Menyiasati pasar di tahun 2026, BEI kata Iman akan fokus pada beberapa hal. Salah satunya adalah membidik investor baru.
Pihaknya menargetkan angka 2 juta investor setiap tahun. Namun di tahun 2025 ini pihaknya berhasil menambah 4,4 juta investor baru.
"Jumlah investor saat ini baru 19 juta dan itu 5 persen dari total penduduk Indonesia," bebernya.
"Sebut saja India yang sudah menembus 120 juta investor. Ini menjadi perhatian kita di bursa," imbun Iman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....