Emas Fisik vs Emas Digital, Investasi Mana Yang Lebih ’Cuan’

  • 05 Mei 2025 10:14 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Denpasar: Harga emas sedang naik daun. Tidak hanya berperan sebagai aset safe haven di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, logam mulia ini juga menjadi pilihan utama investor untuk melindungi nilai (hedging) dari inflasi yang melonjak. Mengutip goldprice.org per 11 April 2024, harga emas spot dunia melonjak tajam—naik 3,67% dalam sebulan, 17,8% dalam enam bulan, dan meroket hingga 38,62% dalam setahun, menyentuh US\$2.740 per ons. Sementara di dalam negeri, harga emas Antam per 16 April 2025 mencapai Rp1,916 juta per gram, naik Rp20 ribu hanya dalam sehari.

Melihat tren ini, semakin banyak orang, termasuk generasi muda milenial dan Gen Z, mulai mempertimbangkan investasi emas. Namun, muncul satu pertanyaan klasik: emas fisik atau emas digital?

Emas fisik adalah bentuk investasi klasik—berwujud nyata, bisa disentuh, dan disimpan di rumah atau di safe deposit box. Banyak orang merasa aman karena mereka bisa “memegang langsung” investasinya. Keunggulan emas fisik antara lain:

• Tahan inflasi dan krisis. Emas terbukti bisa mempertahankan nilainya bahkan saat mata uang melemah. Riset menunjukkan, harga emas bisa naik 2–3% untuk setiap kenaikan inflasi 1%.

• Jika terjadi gejolak politik atau ekonomi di dalam negeri, emas fisik tetap bisa dibawa dan dijual di luar negeri.

• Cocok untuk warisan, karena bisa diserahkan secara fisik, emas batangan sering dipilih sebagai instrumen pelindung kekayaan lintas generasi.

Namun, emas fisik punya sejumlah tantangan:

• Butuh tempat penyimpanan khusus seperti brankas atau layanan safe deposit box bank.

• Risiko kehilangan dan pencurian, serta perlu biaya tambahan untuk asuransi.

• Likuiditas lebih lambat karena butuh proses verifikasi keaslian sebelum dijual kembali.

Sementarai itu, Emas digital adalah bentuk kepemilikan emas yang dicatat dan dikelola secara elektronik oleh penyedia resmi. Setiap pembelian emas digital umumnya dijamin oleh emas fisik yang disimpan di brankas dengan sistem pengawasan ketat. Apa saja kelebihannya?

• Transaksi bisa dilakukan kapan saja lewat aplikasi

• Aman jika penjualnya terdaftar resmi seperti diawasi oleh Bappebti, serta lembaga pendukung seperti ICDX, ICH, dan ILB, sistem emas digital memiliki pengawasan berlapis—mirip sistem bursa saham.

• Harga transparan dan spread rendah: Selisih harga beli dan jual (buyback) emas digital hanya sekitar 2,5–3,5%, jauh lebih rendah dari emas fisik offline yang bisa mencapai 10,63%.

• Balik modal lebih cepat, karena spread rendah. Beberapa platform memungkinkan investor bisa untung lebih cepat.

• Investor bisa menabung emas sedikit demi sedikit dan baru mencetak fisiknya saat jumlahnya mencukupi, menghindari biaya cetak mahal dari gramasi kecil.

Namun emas digital juga punya sisi minus:

• Tidak bisa disentuh secara fisik, sehingga kepercayaan pada platform jadi kunci utama.

• Risiko teknologi seperti gangguan sistem atau masalah keamanan siber harus diperhitungkan.

Pilihan emas fisik atau digital sangat tergantung pada profil risiko, tujuan investasi, dan gaya hidup pemiliknya. Emas fisik cocok untuk individu yang ingin investasi jangka panjang, menyimpan kekayaan, atau ingin bentuk fisik yang bisa diwariskan. Sedangkan Emas digital lebih pas untuk seseorang yang ingin investasi lebih fleksibel, cepat, dan mudah—cocok untuk generasi muda yang tech-savvy dan punya dana terbatas tapi tetap ingin mulai berinvestasi. Banyak ahli menyarankan, gabungkan keduanya untuk diversifikasi portofolio. Menurut World Gold Council, permintaan emas fisik global mencapai 4.741 ton pada 2023, tertinggi sejak 2011. Sementara itu, pengguna emas digital melonjak, terutama dari kalangan milenial, karena kemudahan dan teknologi blockchain.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....