Operator Telekomunikasi Ubah Strategi Bisnis Baru lewat AI

  • 25 Jul 2026 21:39 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jakarta - Industri telekomunikasi Indonesia mulai mengubah strategi bisnis dengan menjadikan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai sumber pertumbuhan pendapatan baru. Di tengah persaingan layanan konektivitas yang semakin ketat, operator kini berupaya membangun ekosistem digital berbasis AI untuk menciptakan layanan bernilai tambah bagi pelanggan.

Transformasi tersebut menjadi sorotan dalam perkembangan industri yang dilaporkan pada Rabu, 22 Juli 2026. AI kini tidak lagi diposisikan hanya sebagai teknologi untuk menekan biaya operasional, tetapi juga sebagai fondasi bagi model bisnis baru yang berpotensi meningkatkan pendapatan perusahaan.

Perubahan arah strategi itu juga terlihat pada tren global. Laporan GSMA yang dipresentasikan dalam ajang MWC Shanghai 2026 menunjukkan porsi pemanfaatan AI untuk mendorong pertumbuhan pendapatan meningkat dari 16 persen pada kuartal II 2025 menjadi 38 persen pada kuartal I 2026, sementara penggunaan AI untuk efisiensi turun menjadi 62 persen.

Di kawasan Asia Pasifik dan China, hampir separuh perusahaan telekomunikasi telah memanfaatkan AI sebagai instrumen monetisasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa operator tidak lagi hanya bersaing dalam penyediaan jaringan, melainkan juga berlomba menghadirkan layanan digital yang lebih cerdas dan personal.

Pada segmen pelanggan ritel atau business-to-consumer (B2C), AI dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas interaksi dengan pelanggan. Teknologi ini digunakan untuk mempercepat layanan pelanggan, memberikan rekomendasi produk yang lebih relevan, hingga mempertahankan pelanggan melalui pendekatan yang lebih personal berdasarkan analisis data.

Director and Chief Enterprise Strategic Relationship Officer PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk., Andrijanto Muljono, menilai pengalaman pengguna menjadi faktor utama dalam keberhasilan implementasi AI. Ia mengatakan, Sementara itu untuk B2C, pengalaman pengguna yang sederhana dan personalisasi akan menjadi kunci agar AI benar-benar menciptakan nilai.

Menurut Andrijanto, konsep SuperApp berbasis AI memiliki peluang besar untuk berkembang apabila mampu menawarkan manfaat yang nyata bagi pengguna. Namun, implementasinya tetap harus mempertimbangkan kebutuhan pasar, interoperabilitas antarplatform, serta model bisnis yang berkelanjutan.

Prospek pasar SuperApp juga dinilai menjanjikan. Berdasarkan riset Grand View Research, nilai pasar global SuperApp diperkirakan mencapai sekitar US$121,1 miliar pada 2025 dan berpotensi meningkat menjadi hampir US$968,77 miliar pada 2033, didorong oleh meningkatnya integrasi layanan digital dalam satu aplikasi.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. juga melihat AI sebagai peluang untuk mengintegrasikan konektivitas, layanan digital, keamanan, serta pengelolaan data ke dalam satu ekosistem. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman digital yang lebih praktis sekaligus memperluas sumber pendapatan perusahaan.

Sementara itu, pada segmen business-to-business (B2B), AI masih menjadi kontributor utama pertumbuhan bisnis operator telekomunikasi. Berbagai perusahaan memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan produktivitas, analisis data, otomatisasi proses bisnis, keamanan siber, hingga implementasi Internet of Things (IoT) dan jaringan 5G di sektor industri.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Pengamat juga menilai AI membuka peluang monetisasi baru melalui layanan premium, bundling aplikasi digital, hingga pemanfaatan analitik berbasis data untuk menghadirkan penawaran yang lebih tepat sasaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....