Ford dan Klarna Disebut Kembali Rekrut Karyawan imbas AI Tidak Berjalan Maksimal
- 07 Jul 2026 13:28 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Michigan - Sejumlah perusahaan besar mulai mengubah strategi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) setelah menyadari teknologi tersebut belum mampu menggantikan seluruh peran tenaga ahli. Pengalaman ini menunjukkan AI lebih efektif digunakan sebagai alat pendukung pekerjaan, bukan sebagai pengganti manusia secara penuh.
Salah satu contohnya datang dari Ford yang kembali merekrut sekitar 350 insinyur setelah mengevaluasi penggunaan AI dalam proses pengembangan kendaraan. Sebagian dari mereka merupakan mantan karyawan Ford, sementara lainnya berasal dari perusahaan pemasok yang telah berpengalaman di bidang teknik otomotif.
Vice President of Vehicle Hardware Engineering Ford, Charles Poon, mengakui perusahaan sempat terlalu percaya pada kemampuan AI dalam menghasilkan desain produk. "Kami salah mengira. (Kami kira) hanya dengan memperkenalkan AI dan memasukkan persyaratan desain yang kami miliki, itu akan menghasilkan produk berkualitas tinggi. Namun ternyata kami salah," katanya.
Menurut Ford, sistem otomatis yang sebelumnya diandalkan belum mampu mendeteksi seluruh potensi masalah sebelum komponen diproduksi. Karena itu, perusahaan kembali melibatkan para pakar teknis untuk menelusuri titik-titik kegagalan sejak tahap perancangan agar kualitas produk tetap terjaga.
Meski kembali merekrut tenaga manusia, Ford tidak menghentikan penggunaan AI. Perusahaan justru memanfaatkan para insinyur berpengalaman untuk melatih generasi pekerja baru sekaligus menyempurnakan sistem AI agar lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
CEO Ford, Jim Farley, mengatakan pendekatan tersebut memberikan hasil yang positif. Perusahaan mencatat penurunan biaya garansi dan jumlah penarikan kembali (recall) kendaraan, bahkan Ford menempati posisi teratas dalam Initial Quality Study dari J.D. Power yang dirilis pada pekan lalu.
Pengalaman serupa juga dialami perusahaan teknologi finansial Klarna. Setelah memangkas sekitar 1.200 karyawan pada 2024 dan mengandalkan AI untuk berbagai pekerjaan, perusahaan kembali membuka lowongan kerja pada 2025 karena menilai kualitas layanan belum memenuhi harapan.
CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengakui perusahaan sempat terlalu agresif mengadopsi AI. "Kami mungkin cukup berlebihan menggunakan AI, sehingga dalam enam bulan terakhir kami mencoba memperbaikinya," ujarnya.
Menurut Klarna, chatbot AI memang mampu mempercepat layanan pelanggan dan memangkas biaya operasional, tetapi peningkatan efisiensi tersebut belum otomatis menghasilkan pertumbuhan bisnis maupun pengalaman pelanggan yang lebih baik. Karena itu, perusahaan kini mengombinasikan kemampuan AI dengan keahlian karyawan untuk menjaga kualitas layanan.
Tren tersebut sejalan dengan berbagai penelitian yang menyebut AI paling efektif ketika digunakan untuk membantu pengambilan keputusan, bukan menggantikan seluruh proses kerja. Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan AI akan mengubah banyak jenis pekerjaan, tetapi tetap meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja yang memiliki keahlian teknis, analitis, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....