Dolar AS Tembus Rp18.000, Hotel Bali Catat Kenaikan Bisnis

  • 07 Jun 2026 17:39 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Badung – Nilai tukar rupiah yang mencapai Rp18.000 per dolar pada awal Juni 2026 dinilai tidak mengganggu kinerja industri perhotelan di Bali. Dalam forum Executive Briefing US-ASEAN Business Council yang digelar pada 4 Juni 2026 di Kuta, Bali, pelaku usaha perhotelan menyebut sektor pariwisata masih menunjukkan ketahanan menjelang periode musim kunjungan tinggi atau high season.

General Manager The Westin Resort & Spa Ubud, Marriott International, Saraswati Subadia, mengatakan penguatan dolar justru memberikan dampak positif bagi industri perhotelan. Menurutnya, kondisi bisnis hotel saat ini menunjukkan peningkatan sekitar 10 persen.

“Dampak dolar itu buat kami di industri hotel justru membaik sebenarnya. Jadi bisnis yang saat ini terjadi sudah kembali, belum 100 persen normal tapi sudah naik di angka 10 persen. Dan sebentar lagi kita akan memasuki periode high season, yang secara proyeksi juga mendekati tahun lalu. Jadi itu membuktikan bahwa tingkat hunian kamar hotel di Marriott International masih tetap stabil,” ujar Saraswati.

Saraswati menambahkan, sebagian besar kebutuhan operasional hotel tidak terlalu terdampak karena didukung oleh pasokan lokal melalui program Bali for Bali. “Kerja sama kami, khususnya untuk bahan baku operasional dengan Bali for Bali itu sangat membantu sekali. Jadi tidak terlalu berdampak pada operasional hotel,” katanya.

Menurut Saraswati, tantangan utama industri perhotelan saat ini lebih berkaitan dengan ketersediaan energi dan pasokan listrik dibandingkan fluktuasi nilai tukar. Meski demikian, Bali dinilai masih memiliki daya saing tinggi sebagai destinasi wisata internasional dan tetap menjadi pilihan wisatawan mancanegara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....