IM3 Platinum, Solusi bagi Pejuang Cuan di Tanah Dewata
- 11 Mei 2025 08:52 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Aktivitas usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Bali mengalami peningkatan dalam satu dekade terakhir. Hal itu dibuktikan dari kian bertumbuhnya pejuang cuan di tengah ingar bingar kepariwisataan Pulau Seribu Pura.
Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Bali mencatat, jumlah UMKM pada tahun 2024 mencapai 439.382 unit. Dimana lebih dari 50 persen UMKM di Bali terkait sektor pariwisata, seperti pembuatan dan penjualan souvenir serta kuliner.
Misriati (46) adalah salah seorang sosok yang sejak lama telah berkecimpung menjadi UMKM di Bali. Perempuan tangguh asal Banyuwangi, Jawa Timur itu memulai usahanya di tahun 2000.
Ikhtiar berdikari dengan menjadi pelaku usaha tampaknya bukan perkara mudah. Misriati mengaku, sempat beberapa kali mengubah lini usaha agar bisa tetap bertahan di tanah rantau.
"Saya di tahun 2000 saya mencoba membuka usaha catering. Tetapi kebetulan keberuntuhan belum berpihak kepada saya," katanya ketika ditemui rri.co.id, Minggu (11/5/2025).
"Sampai pada momen pandemi Covid-19, saya memutuskan membuka rumah makan Nasi Tempong Bu Reva," lanjutnya.
Misriati menjelaskan, buah dari usahanya mulai tampak usai pandemi Covid-19 berlalu. Bahkan saat ini, ia telah memiliki satu cabang, yang berlokasi di Kota Denpasar.
"Awal buka di Jalan Taman Sari Nomor 5, Desa Kelan, Tuban ini. Alhamdulillah karena banyak peminatnya, saya memutuskan membuka cabang di daerah Pamogan, Denpasar. Di sana dikelola anak saya," jelas Misriati sembari melayani konsumen yang datang.
Istri dari Bonari itu mengaku mampu menjual hingga 100 porsi per harinya. Penjualan itu merata untuk seluruh varian, seperti Nasi Tempong atau Lalapan Ayam, Bebek, Udang, Lele dan Empal.
Di balik kisah suksesnya itu, ternyata Misriati memiliki kiat yang tampaknya wajib diketahui masyarakat. Kiat itu bisa jadi pedoman bagi siapa pun yang berminat memulai usaha di Tanah Surga.
"Saya orangnya selektif, apalagi yang menyangkut usaha. Saya berusaha menggunakan sesuatu yang bermanfaat, termasuk saat memilih provider telekomunikasi. Kita kan tahu, usaha kuliner saat ini sangat terbantu dengan keberadaan ojek online," bebernya.
"Nah untuk mendukung itu, kita harus pakai kartu yang stabil. Dulu pernah salah pilih, di handphone saya belum masuk orderan, tapi di handphone drivernya sudah. Jadinya konsumen mengeluh karena menunggu lama," sambungnya.
Selain kestabilan jaringan, Misriati mengaku memerlukan provider telekomunikasi yang tidak kedaluarsa ketika lupa mengisi pulsa. Asa itu disampaikan, karena ia sempat beberapa kali ganti nomor handphone lantaran hangus.
"Nomor saya yang lama hangus, karena lupa isi pulsa. Terus saya ditawari menggunakan IM3 sama keponakan yang kerja di Indosat. Saya pelajari kok ternyata menarik dan jauh lebih murah kuotanya, akhirnya saya mau," jelasnya.
Setelah dua tahun menggunakan IM3 (prabayar), Misriati kembali ditawari untuk upgrade ke IM3 Platinum (pascabayar). Karena melihat kelebihan fitur yang ditawarkan, ia mengiyakan untuk bermigrasi ke IM3 Platinum.
"Ketika saya datang ke gerai indosat, saya ditawari untuk upgrade dari kartu saya yang sebelumnya membeli kuota setiap bulan, menjadi IM3 Platinum dengan sistem pembayaran satu tahunan," ungkapnya.
"Petugasnya waktu itu bilang lebih enak dan tidak perlu isi-isi data terus. Nanti kalau sudah habis akan kami ingatkan. Begitu kata petugasnya. Ternyata betul saya selalu diingatkan, jadi membantu sekali, apalagi saya orangnya sangat pelupa. Saya berpikir, ini solusi teraman buat saya," imbuhnya.
Karena nyaman dengan layanan tersebut, Misriati saat ini membenamkan lima kartu IM3 Platinum di device (ponsel) berbeda. Masing-masing kartu menggunakan layanan IM3 Platinum 15/12.
"Lima kartu itu, yang dua HPnya buat bisnis, yang satu anak saya, yang satu saya, satunya lagi suami yang pakai," ujarnya.
IM3 Platinum 15/12 adalah paket pascabayar Indosat IM3 yang menawarkan kuota 15GB per bulan selama 12 bulan. Pengguna hanya perlu merogoh kocek Rp750.000 per tahun untuk bisa menikmati layanan ini.
Pengguna tidak perlu khawatir kuota hangus, karena akan diakumulasikan dan dapat digunakan di periode berikutnya. Bahkan Misriati mengakui, biaya langganan IM3 Platinum jauh lebih murah ketika dibandingkan dengan kartu yang digunakan sebelumnya.
"Suami saya itu kalau beli paketan bulanan dia boros. Dulu sebelumnya kita pakai kartu lain, setiap beli paketan mahal. Satu minggu bisa Rp50.000. Kartu itu saya migrasi ke pascabayar, kok mahal juga, per bulannya sekitar Rp130.000an. Tapi kalau IM3 Platinum kan setahunnya Rp750.000, saya hitung-hitung lumayan itu, jadi saya pindahin ke IM3 Platinum semua," katanya.
Sebagai pengguna setia, Misriati berharap Indosat Ooredoo Hutchison (IOH / Indosat) dapat mempertahankan pelayanan yang selama ini sudah sangat prima. Harapan itu untuk memberikan kenyamanan dan kepuasan pengguna.
"Saya berharap layanan yang sudah bagus dipertahankan dan kalau bisa ditingkatkan lagi. Sejauh ini saya tidak ada keluhan, jaringannya sangat stabil, harganya juga sangat terjangkau," ucap Misriati menutup perbincangan bersama rri.co.id.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....