Perkembangan AI, Pro Kontra bagi Pengusaha dan Pencari Kerja

  • 05 Mar 2025 18:22 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar : Artificial Intelegence (AI) atau yang dikenal juga sebagai kecerdasan buatan, hingga saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dan semakin canggih. Beberapa contoh AI yang saat ini tengah digunakan untuk mempermudah operasional korporat seperti Google Gemini dan Chat GPT sebagai alat pencarian berbasis chatbot.

Selain itu ada DeepL guna melakukan penerjemahan bahasa dan masih banyak lagi yang bisa membantu produktivitas dibidang asisten virtual, editing multimedia, keamanan IT, riset, anotasi notulensi percakapan, menyiapkan slide presentasi. Semua itu pastinya akan terus berkembang pesat jenis-jenis AI lainnya yang akan mempermudah aspek kehidupan manusia.

Disamping kemampuan yang dipandang menghasilkan output produk dalam waktu singkat, AI sekarang memiliki potensi bagi perusahaan dalam melakukan efisiensi tenaga kerja, oleh karena beban tenaga kerja dari seorang pekerja dapat dimudahkan dengan keberadaan AI ini. Oleh karenanya wajar apabila dikemudian hari pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 2-3 orang, dikemudian hari akan dilimpahkan kepada 1 orang.

Ketua Bidang XI BPD HIPMI Bali, I Gusti Ngurah Indra Andhika, SH., MH., menyampaikan, perkembangan AI ini bagi perusahaan di Inonesia dapat menjadi jawaban bagi ketidakjelasan ekonomi global yang disebabkan konflik geopolitik, perubahan suku bunga dan ancaman resesi. Ditambah beberapa fenomena pengambilalihan peran karyawan oleh teknologi AI di tahun 2025 ini, yang mana salah satu Perusahaan Bank terbesar di Singapura dan Asia Tenggara, Development Bank of Singapore (DBS) terang-terangan menyampaikan AI telah mengambil alih peran dari kurang lebih 4000 karyawannya.

“Peristiwa ini seharusnya menjadi refleksi dan tolak ukur bagi tenaga kerja di Indonesia untuk berusaha semakin giat untuk menunjukkan peningkatan kualitas guna mempertahankan pekerjaannya,” katanya.

“Tidak hanya di Singapura, PHK di awal tahun 2025 di Indoneisa juga marak terjadi, sehingga membuktikan kondisi ekonomi secara global tidak baik-baik saja,” lanjutnya.

Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda, mengatakan PHK yang marak ini menandakan perekonomian dalam kondisi lampu kuning. Salah satu contoh PHK di Indonesia belakangan adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), perusahanan tekstil ternama di Sukoharjo, Jawa Tengah yang telah resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang.

Akibatnya, perusahaan tekstil yang telah berdiri 58 (lima puluh delapan) tahun tersebut harus melakukan Pemutusan Hubungan Kerja terhadap 8.000 karyawan. Selain contoh tersebut tentunya masih banyak perusahaan yang beroperasi namun melakukan efisiensi dalam pengurangan karyawan.

Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global ini, perusahaan pasti akan meningkatkan efisiensi untuk mencegah kegagalan dalam berusaha. Guna menigkatkan efisiensi tersebut AI hadir dalam berbagai aspek operasional.

Dengan otomatisasi proses bisnis, perusahaan dapat mengurangi biaya tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas. Teknologi AI juga memungkinkan analisis data yang lebih akurat, mendukung pengambilan keputusan berbasis informasi yang lebih cepat dan tepat.

Selain itu, penggunaan AI dalam layanan pelanggan, seperti chatbot dan asisten virtual, membantu perusahaan dalam memberikan respons yang lebih cepat dan efektif kepada konsumen. Sektor manufaktur dan logistik juga semakin mengadopsi AI untuk meningkatkan efisiensi produksi serta manajemen rantai pasok.

Ditambah lagi keberadaan AI dalam operasional kerja, tidak memiliki keterkaitan emosi seperti hal nya pekerja yang berpotensi untuk bolos, melawan perintah atasan, dan toxic perihal aspek perusahaan. Namun demikian keberadaan AI ini akan berdampak pada adanya pengurangan tenaga kerjayang sudah ada di Perusahaan.

“Penggunaan AI bisa menjadi aset berharga bagi perusahaan jika diterapkan dengan strategi yang tepat. Namun, pengusaha juga harus mempertimbangkan tantangan dan risikonya agar implementasi AI dapat memberikan manfaat optimal,” ujarnya.

Perkembangan AI memicu kekhawatiran bagi para pencari kerja. Otomatisasi dan robotisasi di berbagai sektor menyebabkan berkurangnya lapangan kerja, terutama bagi pekerja dengan keterampilan rendah.

Sejumlah profesi yang sebelumnya mengandalkan tenaga manusia kini tergantikan oleh mesin cerdas, seperti kasir, operator produksi, dan layanan pelanggan. Namun, AI juga membuka peluang baru dalam bidang teknologi dan analisis data.

Permintaan akan tenaga kerja yang memiliki keahlian di bidang AI, pemrograman, dan analisis big data semakin meningkat. Oleh karena itu, pekerja dituntut untuk meningkatkan keterampilan mereka agar tetap relevan di pasar kerja yang semakin kompetitif.

“Dengan demikian, pesatnya perkembangan penggunaan Artificial intelegence ini, memberikan implikasi bagi pekerja untuk selalu memberikan yang terbaik,” ucapnya.

“Persaingan dunia kerja akan menjadi lebih menantang (challenging) di kemudian hari, dan Negara harus mempersiapkan dengan adanya regulasi yang mengatur terkait kecerdasan buatan, serta peningkatan keterampilan pekerja dalam pendidikan vokasi yang tepat akan menjadi solusi bagi tenaga kerja di Indonesia,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....