Asal Usul Istilah Queen Bee Syndrome

  • 25 Jun 2025 16:58 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar : Dari luar, keberhasilan perempuan di dunia kerja sering terlihat keren dan penuh inspirasi. Tapi, ada sisi lain yang jarang dibicarakan, yaitu fenomena Queen Bee Syndrome. Ini adalah situasi ketika perempuan yang sudah mencapai posisi tinggi justru bersikap kurang suportif, atau bahkan menjatuhkan rekan perempuan lainnya yang sedang berusaha naik level di jalur karier yang sama.

Fenomena ini biasanya muncul karena ada rasa terancam. Perempuan yang sudah “sukses duluan” kadang merasa pencapaiannya jadi kurang istimewa kalau makin banyak perempuan lain yang juga berhasil. Akibatnya, mereka bisa jadi enggan membantu, atau malah mempersulit rekan perempuannya untuk berkembang. Bukannya saling dorong, malah jadi saingan yang tidak sehat.

Dikutip dari BBC, Queen bees: Do women hinder the progress of other women?, istilah Queen Bee Syndrome pertama kali muncul di tahun 1973, lewat penelitian tiga profesor psikologi dari University of Michigan: GL Staines, TE Jayaratne, dan C. Tavris. Waktu itu, mereka melihat sebuah pola menarik, perempuan yang sudah mencapai posisi tinggi di kantor malah sering bersikap dingin atau kurang mendukung perempuan lain yang sedang berjuang membangun karier.

Nama “Queen Bee” sendiri diambil dari dunia lebah, di mana hanya ada satu betina dominan yang bisa berkembang biak dan menguasai sarang. Dalam konteks tempat kerja, istilah ini merujuk pada perempuan yang berusaha mempertahankan posisi puncaknya dengan menghalangi perempuan lain agar tidak “naik kelas”.

Awalnya, konsep ini sempat jadi perdebatan karena dianggap menyudutkan perempuan, seolah-olah merekalah penyebab kurangnya solidaritas antar sesama. Tapi, seiring berkembangnya studi feminis dan psikologi kerja, semakin jelas bahwa sikap seperti itu biasanya bukan murni karena karakter si perempuan, tapi karena tekanan struktural dalam sistem kerja yang masih sangat maskulin.

Dalam dunia kerja yang cuma menyisakan “satu-dua kursi” untuk perempuan di level atas, persaingan bisa terasa lebih tajam. Jadi, wajar kalau ada rasa terancam saat perempuan lain mulai menunjukkan potensi. Hal ini juga diamini oleh Naomi Ellemers, profesor dari Universitas Utrecht, yang mengatakan bahwa perempuan yang sudah berhasil sering merasa mereka harus kerja ekstra keras untuk membuktikan diri. Karena itu, mereka cenderung ragu kalau ada perempuan lain yang ingin mengikuti jejaknya.

Peneliti juga menekankan bahwa Queen Bee Syndrome sering disalahpahami. Sebenarnya, ini bukan akar masalah, tapi lebih ke akibat dari sistem kerja yang masih bias gender. Jadi, kalau kita mau menghapus sindrom ini, solusinya bukan menyalahkan individunya, tapi memperbaiki sistem yang membuat perempuan merasa harus bersaing satu sama lain.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....