Heboh Pneumonia Misterius di China, Ini Tanggapan Epidemiolog

  • 03 Des 2023 20:27 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar: China kini tengah bergulat dengan lonjakan kasus pneumonia 'misterius', yang banyak menyerang anak-anak. Wabah ini memberikan tekanan besar pada sistem layanan kesehatan China karena keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan. Kondisi ini turut memantik kekhawatiran warga Indonesia, sebab ada asumsi wabah ini menyerupai covid-19.

Ketua Ahli Epidemiologi Indonesia Cabang Bali, Dr. dr. I Wayan Gede Artawan Eka Putra, M.Epid mengungkapkan kasus pneumonia yang merebak di China kini sebetulnya sudah tidak misterius. Sebab, pemerintah di China sudah melaporkan secara resmi, penyebab wabah pneumonia yang saat ini terjadi bukanlah bakteri atau virus baru, melainkan mycoplasma pneumonia.

"Kalau yang terjadi di China itu mereka menyebut istilahnya undefined atau undiagnose. Itu karena memang sebagian belum bisa didiagnosis secara pasti penyebabnya. Tapi sebagian 40-50 persennya itu sudah diketahui penyebabnya itu adalah bakteri, mycoplasma pneumoniae," kata Ketua Ahli Epidemiologi Indonesia Cabang Bali, Dr. dr. I Wayan Gede Artawan Eka Putra, M.Epid dikonfirmasi RRI di Denpasar.

Dia menambahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kasus pneumonia ini tidak masuk dalam kasus darurat, namun tetap perlu diwaspadai.

"Memang menyerang lebih banyak itu pada anak-anak. Berdasarkan hasil surveilance, kita punya namanya surveillance ily (influenza light ilness). Dari hasil pantauan tersebut memang sampai saat ini belum masuk ke Indonesia. Karena setiap orang yang mengalami tanda gejala influensa, itu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya. Tapi tetap waspada," terangnya.

dr. Wawan lebih lanjut mengatakan potensi pneumonia di China untuk jadi pandemi sangat kecil. Pneumonia cenderung berada di bawah level covid-19. Meski demikian, penanganannya tetap harus disiapkan.

"Potensi untuk terjadinya pandemi itu tergolong rendah. Karena dilihat dari agentnya yang sebagian saat ini diketahui adalah bakteri mycoplasma, itu infektivitasnya atau tingkat penularannya tidak setinggi covid-19, justru jauh lebih rendah. Kemudian dari sisi masa inkubasi juga lebih panjang tanda gejala, justru sebagian besar jauh lebih banyak yang ringan, dengan tingkat fatality yang jauh lebih rendah kurang dari 1 persen," lanjutnya.

Secara umum, lanjut dr. Wawan, risiko pneumonia pada pasien tidak parah. Bahkan sebagian besar bisa sembuh sendiri. Dengan catatan kondisi pasien bagus dan tidak mengalami gangguan imunitas atau daya tahan tubuh. Karena itu ia menekankan agar PHBS tetap dilakukan serta menjauhi asap rokok.

"Untuk masyarakat menurut saya tidak perlu khawatir berlebihan. Waspada iya jika, apalagi anak umur kurang dari 18 tahun. Mengalami tanda gejala demam, kemudian batuk pilek, bersin, itu kan tanda gejala dari infeksi saluran napas. Lebih baik datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan seperti biasa untuk saat ini, dan tentu ada pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya," pungkasnya.

Rekomendasi Berita