Pro Kontra Wolbachia, Ini Faktanya

  • 16 Nov 2023 22:15 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar: Kekhawatiran soal strategi pengendalian demam berdarah dengue (DBD) dengan nyamuk berteknologi wolbachia, bermunculan di media sosial. Pada sebuah video yang beredar awal November 2023 lalu, muncul seruan kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menghentikan penyebaran nyamuk wolbachia. Seruan itu dilatarbelakangi ketakutan, nyamuk tersebut berbahaya bagi manusia dan lingkungan hidup. Kondisi serupa juga terjadi di Provinsi Bali, mengakibatkan ditundanya sementara waktu penebaran telur nyamuk yang direncanakan di Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng. Pemerintah setempat pun telah menyiapkan jutaan telur wolbachia untuk proyek tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr Anak Agung Ngurah Gede Dharmayuda dikonfirmasi RRI, Kamis (16/11/2023) membenarkan adanya penundaan penyebaran telur nyamuk tersebut. Pihaknya juga menerima surat dari Save Children, karena itu rencana ini ditunda sementara waktu.

“Nah sekarang muncul penolakan karena dianggap nyamuknya berbahaya. Sekarang kan dianggap tidak ada sosialisasi. Sosialisasi sudah kami laksanakan di lokasi-lokasi yang sesuai dengan titik yang sudah direncanakan. Kemudian dikatakan merugikan, kalau kajian dampak itu kan sudah dilakukan Kemenkes. Dan kita kan mengikuti arahan Kemenkes. Kalau Kemenkes tidak merekomendasikan, kan tidak mungkin kita menerapkan itu,” jelasnya.

Kendatipun metode ini nantinya dijalankan, menurut Darmayudha masyarakat tidak bisa meninggalkan gerakan PSN (Pemberatasan Sarang Nyamuk).

“Ini salah satu upaya, bukan satu-satunya. Ingat wolbachia ini bukan satu-satunya cara. Saya tidak minta masyarakat langsung dukung, tidak. Ayo kita lihat saja dulu, sisi baik dan buruknya. Ada kontra itu bagus, tapi yang penting sekarang mari kita lihat dampak kedepannya untuk derajat kesehatan kita,” ujarnya.

Ketua Perhimpunan Entomolog Indonesia (PEKI) Cabang Bali, Dr. Sang Gede Purnama, S.KM.,M.Sc. di tempat terpisah menjelaskan Wolbachia merupakan bakteri yang secara alami ada pada hampir 70 persen spesies serangga di dunia, termasuk lalat, lebah, kupu-kupu, dan nyamuk, sehingga aman untuk manusia dan lingkungan. Selain itu juga dibuktikan dari hasil uji coba penyebaran nyamuk ber-wolbachia yang dilakukan di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul pada tahun 2022 dengan penurunan kasus demam berdarah dengue secara alami.

“Dengan random control trial nama metodenya, mereka melakukan pemeriksaan secara komunitas di populasi yang tinggi kasus demam berdarahnya. Ternyata menunjukkan bahwa 77 persen setelah disebarkan itu kasus insiden di masyarakat itu menurun dan 86 persen kasus demam berdarah yang ada di rumah sakit juga menurun. Itu menunjukkan bahwa wolbachia ini efektif untuk penanggulangan DBD secara alami,” pungkasnya.

Sang Purnama menekankan meski strategi penyebaran nyamuk dengan teknologi wolbachia dijalankan, metode pencegahan dan pengendalian penyakit demam berdarah yang telah ada tetap dilakukan. Metode yang dimaksud yakni gerakan 3M Plus seperti Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang serta tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Rekomendasi Berita