Murwa Daksina: Perjalanan Panjang menuju Tingkat Kesucian

  • 06 Okt 2026 15:06 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Program Obrolan Galang Kangin RRI Pro 4 Denpasar membahas konsep Murwa Daksina sebagai bagian integral dari tradisi dan upacara Hindu Bali.
  • Murwa Daksina dimaknai sebagai perjalanan spiritual yang mengarah pada peningkatan tingkatan dan proses penyucian dalam pelaksanaan upacara keagamaan.
  • Dialog bersama Ajik Tibah dan Beli Kejoer mengajak pendengar untuk memahami filosofi mendalam di balik tradisi peralaran arah dalam praktik Hindu Bali.

RRI.CO.ID, Denpasar - Program siaran Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar membahas makna Murwa Daksina dalam rangkaian tradisi dan upacara Hindu Bali. Obrolan santai bersama Ajik Tibah dan Beli Kejoer tersebut mengajak pendengar memahami filosofi perjalanan penyucian dalam pelaksanaan upacara.

Dalam obrolan tersebut dijelaskan, Murwa Daksina berkaitan dengan arah perjalanan yang dimaknai sebagai gerak menuju tingkatan yang lebih tinggi. “Murwa Daksina” disebut memiliki makna perjalanan atau pergerakan yang mengarah pada proses peningkatan dan penyucian.

Pembahasan juga mengaitkan Murwa Daksina dengan perjalanan dari alam bawah menuju alam atas dan alam Siwa. “Mau menuju alam atas dan alam Siwa,” ungkap Tibah, menjadi salah satu penjelasan mengenai arah dan makna filosofis yang terkandung dalam prosesi tersebut.

Menurut Tibah, konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan perpindahan secara fisik, tetapi juga menggambarkan proses peningkatan kualitas diri. Perjalanan itu dimaknai sebagai upaya meninggalkan hal-hal yang bersifat kasar menuju keadaan yang lebih halus.

“Filosofi yang terkandung dalam Murwa DaksinaPembersihan dari yang terkasar menuju yang terhalus,” ucapnya . Makna tersebut menggambarkan proses penyucian secara bertahap, dari tingkat yang paling kasar menuju tingkat yang semakin halus.

Pembahasan kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan rangkaian upacara setelah seseorang menjalani proses penyucian, termasuk dalam tradisi nyekah dan memukur. Prosesi tersebut dipahami sebagai bagian dari perjalanan spiritual untuk membersihkan dan menyempurnakan tahapan kehidupan setelah kematian.

Dalam konteks filosofis, proses penyucian tidak dipandang sebagai sesuatu yang berlangsung secara instan, tetapi melalui tahapan tertentu. Setiap tahapan memiliki makna untuk mengarahkan perjalanan menuju tingkat kesucian dan kesadaran yang lebih tinggi.

Sementara Kejoer menyinggung hubungan antara konsep penyucian dengan simbol segara dan gunung dalam tradisi Hindu Bali. “Ini konsep segara gunung,” tuturnya, sebagai salah satu gambaran hubungan simbolis antara unsur penyucian dan peleburannya dalam rangkaian kehidupan spiritual.

Murwa Daksina dengan demikian tidak hanya dipahami sebagai bagian dari tata cara upacara, tetapi juga mengandung pesan kehidupan mengenai proses memperbaiki dan menyucikan diri. Nilai tersebut mengingatkan umat agar senantiasa bergerak menuju kehidupan yang lebih baik dengan meninggalkan sifat dan perilaku yang kurang baik.

Melalui pembahasan tersebut, Tibah dan Kejoer mengajak pendengar untuk tidak hanya melihat upacara dari sisi pelaksanaan, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya. Pemahaman terhadap simbol dan filosofi diharapkan membuat pelaksanaan tradisi Hindu semakin dilandasi kesadaran, bukan sekadar mengikuti kebiasaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....