Budayawan Dorong Digitalisasi Sastra Suci Hindu

  • 05 Okt 2026 11:34 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru untuk mengenalkan sastra suci Hindu kepada generasi muda. Media sosial, audiovisual, dan berbagai platform kreatif dapat dimanfaatkan agar sastra suci lebih dekat dengan kehidupan generasi saat ini.

Budayawan Bali, I Kadek Wahyudita, mengatakan sastra suci Hindu tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi perlu terus dibaca, dilantunkan, dipahami, dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, pelestarian sastra suci bukan sekadar mempertahankan bentuk, tetapi menjaga makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.

“Jadi, sastra suci sesungguhnya tidak hanya dapat dikatakan sebagai warisan masa lalu, tapi juga harus terus dibaca, kemudian dilantunkan, dan dipahami, serta diaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat. Nah, dalam konteks ini, pelestarian tidak hanya artinya mempertahankan bentuk, tapi juga menjaga makna dan nilai yang terkandung di dalamnya,” ujar I Kadek Wahyudita kepada RRI.CO.ID.

Menurut Wahyudita, tantangan saat ini adalah menghadirkan sastra suci dengan bahasa dan medium yang sesuai dengan perkembangan generasi muda. Digitalisasi dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas pengenalan sastra suci kepada masyarakat.

“Justru tantangannya adalah bagaimana sastra suci dapat dihadirkan dalam bahasa atau medium yang lebih relevan dengan generasi sekarang. Di sini, digitalisasi, media sosial, kemudian audiovisual, dan berbagai platform kreatif dapat menjadi sarana baru tentunya untuk memperkenalkan Dharma Gita kepada masyarakat yang lebih luas,” katanya.

Ia menyebut pengenalan sastra suci dapat dikembangkan melalui konten digital seperti video pendek, podcast, ilustrasi, animasi, dan platform pembelajaran interaktif. Generasi muda tidak hanya menjadi penonton atau peserta, tetapi dapat terlibat sebagai kreator dan komunikator sastra suci Hindu.

“Misalkan, teks Dharma Gita dapat diperkenalkan melalui konten digital, video pendek, mungkin podcast, ilustrasi, animasi, maupun platform pembelajaran interaktif. Dengan demikian, mungkin menurut saya generasi muda tidak hanya menjadi penonton atau peserta lomba, tapi juga dapat menjadi kreator dan komunikator sastra suci Hindu,” ujarnya.

Wahyudita mengatakan sastra suci perlu dikenalkan dengan menunjukkan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Nilai seperti Dharma, kesucian pikiran, pengendalian diri, kasih sayang, keharmonisan, dan penghormatan terhadap alam dinilai masih relevan bagi generasi muda.

“Cara terbaik untuk menarik generasi muda kepada tradisi bukan dengan membawa mereka kembali hanya ke masa lalu, tapi dengan membawa nilai-nilai masa lalu ke dalam konteks kehidupan mereka hari ini,” katanya.

Menurut Wahyudita, keberlanjutan sastra suci tidak cukup dilihat dari keberhasilan suatu kegiatan atau kompetisi. Tradisi akan bertahan ketika generasi penerus merasa memiliki, memahami nilai yang terkandung di dalamnya, serta mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan.

“Tradisi akan bertahan apabila generasi penerus merasa memiliki dan dia paham dan mampu mengaktualisasikannya. Jadi, keberhasilannya menurut saya bukan hanya beberapa peserta yang tampil atau siapa yang menjadi juara, tetapi sejauh mana kegiatan ini mampu menemukan generasi untuk mengenal sastra sucinya, memahami nilai spiritualnya, mencintai kebudayaannya, dan mampu meneruskan dalam kehidupan masa kini dan masa depan,” ujarnya.

Ia menegaskan pelestarian sastra suci Hindu pada akhirnya bukan hanya menjaga teks agar tidak hilang. Hal yang lebih penting adalah memastikan nilai kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya tetap hidup dalam pikiran, hati, dan perilaku masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....