Tumpek Wayang, Mengapa Ada Tradisi Sapuh Leger?
- 06 Okt 2026 10:09 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Hari Raya Tumpek Wayang selalu menjadi momen sakral yang dinantikan oleh umat Hindu di Bali, khususnya bagi mereka yang memiliki weton kelahiran pada hari tersebut. Pada momen ini, tradisi ruwatan Sapuh Leger kerap digelar secara khusus untuk menyucikan serta menetralkan energi diri. Namun, mengapa mereka yang lahir pada Tumpek Wayang diwajibkan mengikuti tradisi ini?
Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 29 September 2026, Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Dr. Nyoman Arya, S.Ag., M.P.D.H., memaparkan alasan teologis serta filosofi mendalam di balik pelaksanaan Sapuh Leger.
Secara etimologi, nama Sapuh Leger terdiri dari dua kata yang memiliki makna simbolis pembersihan spiritual yang sangat kuat."Mengenai sapuh leger, sapuh itu artinya membersihkan atau menyapu, sedangkan leger itu adalah kekotoran. Jadi Sapuh Leger adalah ritual untuk menyapu dan membersihkan segala kekotoran spiritual pada diri seseorang," ujarnya..
Ia menjelaskan bahwa seseorang yang lahir pada peredaran Tumpek Wayang membawa energi bawaan lahir yang perlu diselaraskan agar tidak menimbulkan hambatan atau ketidakseimbangan dalam perjalanan hidupnya.
Dalam tatanan kalender Bali, Tumpek Wayang yang jatuh pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wayang dikenal memiliki aura spiritual yang sangat kuat atau keramat. Berdasarkan mitologi Hindu yang tertuang dalam berbagai lontar, kelahiran pada hari ini berada dalam naungan atau pengaruh peredaran Sang Hyang Kala.
"Orang yang lahir pada Tumpek Wayang sesuai dengan rujukan lontar seperti Kaledadwo, Sanghyang Kala, Kalepurano, hingga Cepekale, memang dianjurkan mengikuti bebayuhan atau ruwatan Sapuh Leger," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Sabtu (Saniscara) dinaungi oleh manifestasi Dewa Durga dengan perwujudan energi yang sangat tegas. Tanpa prosesi penyucian yang tepat, energi bawaan tersebut dikhawatirkan memicu emosi yang tidak stabil, gangguan kesehatan, atau kepanikan rohani.
Nyoman Arya juga mengingatkan agar pelaksanaan Sapuh Leger maupun bebayuhan oton tidak dilakukan secara asal-asalan. Walaupun dapat dilaksanakan secara bersama atau massal pada momen Tumpek Wayang, setiap individu wajib diidentifikasi hari kelahirannya secara cermat agar sarana upacara (sesayut dan penebusan) sesuai dengan rujukan sastra agama.
"Fungsi Sapuh Leger ini adalah menetralkan aura negatif agar energi dalam diri menjadi dayuh atau tenang dan harmonis. Jadi ini bukan hal yang menakutkan, melainkan bentuk perlindungan spiritual agar orang yang lahir di Tumpek Wayang dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan selamat,"ucapnya.
Melalui pemahaman tattwa (filosofi) yang benar, tradisi Sapuh Leger tidak sekadar menjadi perayaan seremonial belaka, melainkan benteng proteksi spiritual dan sarana introspeksi diri (mulat sarira) dalam merawat keharmonisan jiwa di tengah peradaban modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....