Melik Bukan untuk Dihilangkan, tetapi Dinetralkan
- 06 Okt 2026 11:26 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Kehadiran kondisi melik pada seseorang kerap kali memicu rasa cemas hingga kepanikan di kalangan keluarga masyarakat Hindu di Bali. Tidak sedikit yang menganggap melik sebagai beban spiritual yang harus dihilangkan secepatnya. Padahal, pandangan teologi Hindu menegaskan bahwa melik sejatinya merupakan pembawaan lahir atau potensi kepekaan spiritual khusus yang bukan untuk dihapus, melainkan dinetralkan agar membawa keharmonisan hidup.
Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 29 September 2026, Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Dr. Nyoman Arya, S.Ag., M.P.D.H., menekankan pentingnya meluruskan kekeliruan persepsi masyarakat terkait fenomena melik.
"Melik ini banyak orang bilang harus dihilangkan, itu tidak sebenarnya. Melik ini dinetralkan. Ini adalah suatu pembawaan yang dibawa di dalam kelahirannya, orang yang spesial," ujarnya.
Berdasarkan rujukan lontar dan kajian sastra Hindu, Nyoman Arya mengklasifikasikan melik ke dalam tiga kategori utama yang masing-masing membutuhkan penanganan spiritual (bebayuhan) secara tepat:
- Melik Adnyana: Kepekaan yang berkaitan dengan alam pikiran dan alam bawah sadar. Seseorang sering bermimpi bertemu figur suci berpakai putih, atau sebaliknya bermimpi terjebak dalam pertempuran di alam kegelapan. Jika energi ini tidak dibayuh atau dinetralkan, potensi ini dapat memicu penyakit fisik hingga gangguan emosional.
- Melik Ceciren: Tanda-tanda fisik alami yang dibawa sejak lahir atau tumbuh di luar kewajaran usia, seperti munculnya rambut putih (uban) sebelum waktunya, fenomena rambut gimbal, hingga tanda lahir khusus (kadangan) di area tubuh tertentu.
- Melik Kelahiran: Kondisi khusus dalam proses persalinan atau tatanan kelahiran keluarga (terdapat sekitar 25 jenis), seperti bayi yang lahir terbelit tali pusat (lilit placenta), struktur saudara kandung khusus.
Prosesi ruwatan dan bebayuhan bertindak sebagai instrumen untuk menyelaraskan energi internal (bayu) agar sifat bawaan lahir yang tajam tidak berbalik merugikan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
"Melalui bebayuhan, fungsinya adalah menetralkan sifat-sifat atau ceciren yang memiliki dampak di kemudian hari jika dibiarkan. Jadi bukan menghilangkan kelebihannya, melainkan membuat energinya menjadi dayuh (sejuk dan harmonis)," ucapnya.
Ia menambahkan bahwa momen penyucian diri seperti Tumpek Wayang atau hari kelahiran (pawortonan) hendaknya dimanfaatkan sebagai sarana introspeksi diri (mulat sarira). Dengan menetralkan kondisi melik melalui tuntunan sastra yang tepat, seseorang dapat mengarahkan potensi spiritual bawaannya menjadi energi positif yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....