Melukat, Bebayuhan dan Ruwatan: Apa Bedanya?

  • 06 Okt 2026 06:53 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Di tengah maraknya pelaksanaan ritual penyucian diri di Bali, masyarakat kerap menganggap melukat, ruwatan, dan bebayuhan sebagai satu hal yang sama. Padahal, ketiga prosesi dalam tradisi Hindu Bali tersebut memiliki makna teologis, tujuan, serta tahapan pelaksanaan yang berbeda namun saling melengkapi.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 29 September 2026, Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Dr. Nyoman Arya, S.Ag., M.P.D.H., memaparkan secara mendalam perbedaan mendasar serta keterkaitan dari ketiga tradisi tersebut.

1. Melukat: Pembersihan Pikiran dan Diri

Secara etimologi, kata melukat berasal dari akar kata lukat yang memiliki arti membersihkan atau menyucikan. Ritual ini berfokus pada pembersihan kekotoran rohani (mula mala) dan penenangan pikiran yang sedang kalut.

"Sistem melukat ini bisa dilaksanakan pada waktu hari kelahiran (pawortonan) maupun sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi kita masing-masing. Contohnya ketika pikiran sedang bingung atau emosi tidak stabil, itu waktunya melukat," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa waktu pelaksanaan melukat dapat disesuaikan dengan kebutuhan spiritual seseorang, seperti pada hari Purnama, Kajeng Kliwon Pemelas Tali untuk melepaskan sifat buruk, atau Kajeng Kliwon Udan bagi warga yang mengalami sakit berulang.

2. Ruwatan: Penebusan Aura dan Keseimbangan Bawaan Lahir

Berbeda dengan melukat, ruwatan berfokus pada prosesi penebusan spiritual. Setiap manusia yang lahir membawa energi atau aura tertentu, termasuk kondisi khusus seperti kelahiran melik (kelahiran berpotensi spiritual tinggi atau kondisi unik).

"Ruwatan ini adalah penebusan. Artinya, setiap kelahiran orang itu memiliki nilai aura tertentu sesuai persentasenya. Konsep ruwatan bagi kelahiran melik bukan untuk menghilangkan kondisi tersebut, melainkan untuk menyeimbangkannya agar tidak berdampak negatif," ucapnya.

3. Bebayuhan: Menyeimbangkan Energi Internal

Sementara itu, bebayuhan berasal dari kata bayuh yang bermakna membayar kelemahan atau kekotoran diri, sekaligus berakar dari kata dayuh yang berarti tenang dan harmonis. Bebayuhan bertujuan untuk menyeimbangkan elemen energi (bayu) dan api dalam diri manusia.

"Bebayuhan ini konsepnya adalah menyeimbangkan. Di dalam diri kita semua memiliki elemen api dan cahaya. Jika cahaya atau energi ini tidak dibuat dayuh (sejuk dan harmonis), maka akan memunculkan perilaku yang tidak baik, seperti emosi tak terkontrol atau dorongan untuk merundung (membully) orang lain," tuturnya.

Tahapan dan Urutan yang Tepat

Nyoman Arya menekankan pentingnya memahami urutan pelaksanaan ketiga prosesi tersebut agar makna teologis (tattwa) di balik ritual seremonial dapat dicapai secara tepat sasaran.

"Konsep ketiganya itu berurutan: melukat dulu untuk membersihkan, setelah itu ruwatan untuk penebusan, baru kemudian bebayuhan. Karena bebayuhan ini adalah puncak penyeimbangan energi diri," ujarnya.

Dengan memahami perbedaan dan tahapan ritual ini, umat Hindu diharapkan tidak hanya menjalankan tradisi secara seremonial, tetapi juga meresapi nilai edukasi spiritual demi terwujudnya jiwa yang tenang, sehat, dan harmonis di tengah dinamika kehidupan modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....