Ada Harga yang Harus Dibayar di Balik Gengsi

  • 28 Sep 2026 12:30 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Program Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar mengupas fenomena gengsi yang memengaruhi cara seseorang membuat pilihan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Gengsi didefinisikan sebagai keinginan untuk terlihat lebih baik atau lebih tinggi dibandingkan orang lain, yang dapat mendorong pilihan berdasarkan tren atau status bukan kebutuhan.
  • Pembicara mengajak pendengar mengevaluasi kembali kebiasaan mengejar penampilan, harga, dan pengakuan sosial agar tidak menjadi beban dalam kehidupan.

RRI.CO.ID, Denpasar - Program siaran Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar membahas fenomena gengsi dalam kehidupan sehari-hari yang dapat memengaruhi cara seseorang menentukan pilihan, Kamis, 24 September 2026. Ajik Tibah dan Beli Kejoer mengajak pendengar melihat kembali kebiasaan mengejar penampilan, harga, serta pengakuan sosial agar tidak justru menjadi beban dalam kehidupan.

Dalam perbincangan tersebut, gengsi dikaitkan dengan keinginan seseorang untuk terlihat lebih baik atau lebih tinggi dibandingkan orang lain. Kondisi itu dapat mendorong seseorang memilih sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan karena ingin mengikuti tren atau menunjukkan status tertentu.

“Karena itu adalah putaran hidup,” ujar Kejoer, menjadi salah satu bagian pembahasan yang menggambarkan bagaimana dorongan dalam kehidupan dapat membuat seseorang terus mengejar berbagai keinginan. Menurut narasumber, pilihan dalam hidup perlu dipertimbangkan agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.

Pembahasan juga menyinggung penggunaan pakaian, dekorasi, hingga berbagai kebutuhan yang mengikuti perkembangan gaya dan budaya luar. “Bisa juga karena adopsi budaya luar,” ungkap Tibah, ketika membahas perubahan gaya hidup yang terjadi di tengah masyarakat.

Adopsi terhadap budaya atau tren dari luar tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang harus ditolak, namun perlu disikapi dengan pertimbangan. “Perlu artinya dipertimbangkan, artinya sesuaikan dengan kemampuan,” ujarya.

Menurut Tibah dan Kejoer, masyarakat perlu membedakan antara memenuhi kebutuhan dan mengejar gengsi semata. Keinginan untuk tampil mengikuti perkembangan zaman tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan agar tidak berujung pada beban ekonomi.

Obrolan juga menyinggung kecenderungan masyarakat menggunakan barang atau tampilan tertentu karena dianggap lebih keren atau memiliki nilai lebih di mata orang lain. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang mengeluarkan biaya lebih besar, bahkan ketika hal tersebut sebenarnya bukan kebutuhan utama.

Perubahan zaman memang membawa berbagai bentuk budaya dan gaya hidup baru yang mudah diterima masyarakat, khususnya generasi muda. Namun, perkembangan tersebut tetap perlu disikapi secara bijak dengan mempertimbangkan kemampuan, kebutuhan, serta nilai yang berlaku di lingkungan masyarakat.

Melalui Obrolan Galang Kangin, Ajik Tibah dan Beli Kejoer mengajak pendengar untuk tidak menjadikan gengsi sebagai ukuran utama dalam menjalani kehidupan. Memahami kebutuhan, mempertimbangkan kemampuan, dan tidak berlebihan dalam mengikuti tren menjadi bagian penting agar perubahan zaman tidak justru menjadi sumber persoalan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....