Petani Modern atau Menjual Sawah? Pilihan di tengah Perubahan Zaman

  • 17 Sep 2026 15:24 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Di tengah masifnya alih fungsi lahan di Pulau Dewata, masyarakat agraris dihadapkan pada persimpangan jalan: mempertahankan tanah warisan dengan menjadi petani modern atau menjualnya demi keuntungan ekonomis jangka pendek. Keputusan ini tidak hanya berdampak pada ekonomi keluarga, tetapi juga menentukan masa depan ekologi dan budaya Bali.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 15 September 2026, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana, S.Ag.,M.Si, menegaskan bahwa menjual sawah produktif demi bangunan komersial membawa kerugian jangka panjang bagi tatanan ekosistem (Bhuwana Agung) serta kedaulatan pangan daerah.

Pilihan untuk menjual lahan sering kali dipicu oleh anggapan bahwa menggarap sawah secara konvensional rumit dan kurang menjanjikan. Namun, langkah instan tersebut menyimpan berbagai konsekuensi serius:

  • Tergerusnya Sistem Irigasi Subak: Penjualan lahan secara masif merusak jaringan pengairan Subak, sistem pertanian tradisional Bali yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
  • Kerusakan Lanskap dan Krisis Lingkungan: Hilangnya daerah resapan air akibat beton komersial memicu hilangnya investasi infrastruktur irigasi, peningkatan risiko banjir, pemanasan global, hingga krisis air bersih.
  • Ancaman Ketahanan Pangan: Berkurangnya area sawah subur secara drastis mengikis kemandirian pangan lokal dan keterikatan masyarakat pada nilai gotong royong agraris.

Mengatasi tantangan zaman tidak harus dilakukan dengan cara melepas tanah warisan. Dibandingkan menggalihkan fungsi lahan menjadi pemukiman atau bangunan bisnis, generasi muda didorong untuk mengasah kemampuan dan wawasan tentang teknik pertanian modern.

Dengan mengadopsi teknologi tepat guna, manajemen pertanian yang efisien, dan orientasi pasar yang jelas, sektor pertanian Bali tetap mampu menghasilkan keuntungan finansial yang tinggi. Langkah ini menjadi pilihan bijak untuk menjaga ketahanan pangan keluarga sekaligus merawat kearifan lokal tanpa harus mengorbankan masa depan lingkungan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....