ketika Sawah Berubah Menjadi Bangunan, Apa yang Hilang?
- 17 Sep 2026 15:14 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Maraknya alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi kawasan pemukiman maupun komersial di Bali memicu kekhawatiran mendalam terhadap keberlanjutan kearifan lokal. Penjualan sawah untuk alih fungsi lahan tidak hanya berdampak pada menyempitnya lanskap hijau, tetapi juga mengikis tatanan ekologi dan sistem pertanian tradisional yang menjadi kebanggaan Pulau Dewata.
Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 15 September 2026, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana, S.Ag.,M.Si menegaskan bahwa lahan pertanian produktif memiliki fungsi vital yang jauh melampaui nilai ekonomis jangka pendek. Mengubah kawasan hijau menjadi hamparan beton berisiko merusak keseimbangan alam serta mengancam ketahanan pangan masyarakat.
Konversi sawah secara tidak terkendali membawa serangkaian konsekuensi serius bagi lingkungan dan warisan budaya:
- Kerusakan Sistem Pengairan Subak: Alih fungsi lahan mengancam keberadaan Subak, sistem irigasi tradisional Bali yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
- Hilangnya Investasi Infrastruktur Irigasi: Pembangunan fisik di atas lahan pertanian merusak jaringan saluran air yang telah dibangun dan dirawat secara turun-temurun oleh warga adat.
- Degradasi Lanskap Alam dan Krisis Lingkungan: Hilangnya daerah resapan air memperbesar risiko banjir, pemanasan global, krisis air bersih, hingga hilangnya kesuburan tanah.
- Mengikis Kearifan Lokal dan Ketahanan Pangan: Ketergantungan pada peralihan lahan mengancam kemandirian pangan Bali dan mengikis nilai gotong royong yang melekat pada budaya agraris.
Para pakar mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur menjual tanah sawah yang masih produktif. Dibandingkan mengalihfungsikan lahan menjadi bangunan, petani muda didorong untuk mengasah kemampuan dan wawasan tentang teknik pertanian modern. Dengan memanfaatkan inovasi teknologi secara bijak, sektor pertanian dapat terus menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi tanpa harus mengorbankan kelestarian alam (Bhuwana Agung) dan warisan leluhur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....