Masalah Bisa Semakin Besar saat Amarah Menguasai Diri
- 17 Sep 2026 14:48 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Nafsu dan kemarahan dapat memengaruhi pikiran dan perilaku manusia apabila tidak dikendalikan dengan baik, menurut Penyuluh Agama Hindu I Nengah Budiantara.
- Pikiran memiliki peran penting dalam mengarahkan kehidupan manusia, termasuk dalam menentukan sikap terhadap harta, kedudukan, dan berbagai keinginan duniawi.
- Dengan pikiran yang kuat, seseorang dapat mengatasi nafsu dan kemarahan untuk mencapai ketenangan serta kesadaran diri.
RRI.CO.ID, Denpasar - Nafsu dan kemarahan merupakan dua hal yang dapat memengaruhi pikiran dan perilaku manusia apabila tidak dikendalikan dengan baik. Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, I Nengah Budiantara, dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Kamis, 17 September 2026 mengajak umat untuk mengendalikan keinginan dan amarah sebagai bagian dari upaya mencapai ketenangan serta kesadaran diri.
Menurut Budiantara, pikiran memiliki peran penting dalam mengarahkan kehidupan manusia, termasuk dalam menentukan bagaimana seseorang menyikapi harta, kedudukan dan berbagai keinginan duniawi. “Nafsu dan kemarahan membangalui pikiran, akan tetapi bila pikiran kita kuat, maka nafsu dan marah akan dapat diatasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kekayaan sejati tidak hanya diukur dari kepemilikan harta benda, jabatan maupun kedudukan. “Kekayaan sejati adalah sifat baik, tingkah laku yang baik dan pengetahuan tentang Atma itu sendiri,” katanya.
Harta, kemasyhuran, jabatan dan berbagai kepemilikan duniawi pada dasarnya bersifat sementara dan dapat berubah atau hilang dalam kehidupan. Sebaliknya, sifat baik, pengetahuan dan kebajikan menjadi nilai yang dapat membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.
Dalam materi yang disampaikan, Budiantara mengangkat kisah Wiswamitra dan Resi Wasista sebagai gambaran mengenai perbedaan kekuatan fisik dengan kekuatan yang dilandasi kesadaran spiritual. “Sebenarnya kemampuan fisik itu adalah suatu kelemahan, hanya kemampuan yang dilandaskan pada sifat ketuhanan dan kemampuan kebajikan, itu merupakan kemampuan sejati,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa manusia perlu berhati-hati terhadap gagasan buruk yang muncul dalam pikiran. “Bila gagasan yang tidak baik timbul, kita bisa berbuat sesuatu, jangan biarkan gagasan tidak baik itu mengendap dalam pikiran kita,” ujarnya.
Menurutnya, pikiran yang buruk perlu segera diarahkan menjadi pikiran yang baik dan diwujudkan melalui perbuatan yang positif. Setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan juga dapat dijadikan bentuk pengabdian kepada Tuhan sehingga kehidupan manusia semakin dekat dengan jalan kebajikan.
Pengendalian amarah menjadi bagian penting dalam upaya menguasai diri, karena kemarahan dapat memengaruhi perkataan maupun tindakan seseorang. “Pada saat kita menyadari rasa marah timbul dalam diri, pergilah ke kamar mandi, mandilah dengan air dingin, lalu minum segelas air dingin dan tenangkan diri di tempat yang sejuk,” ungkap Budiantara.
Ia menyarankan seseorang meninggalkan tempat ketika amarah mulai muncul agar memiliki waktu untuk menenangkan diri. Setelah kondisi lebih tenang, seseorang dapat menyelidiki penyebab kemarahan dan mempertimbangkan apakah kemarahan tersebut benar-benar menyelesaikan masalah atau justru memperkeruh suasana.
Budiantara mengingatkan bahwa perkataan yang keluar ketika seseorang dikuasai amarah sering kali sulit dikendalikan. “Ingatlah bahwa kata-kata lebih tajam daripada pedang,” ujarnya.
Menurutnya, perkataan yang dilontarkan akibat kemarahan dapat menyakiti orang lain dan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar. Karena itu, seseorang perlu berpikir sejenak dan menenangkan diri sebelum mengeluarkan kata-kata keras ketika menghadapi persoalan.
Kemarahan juga disebut dapat menguras energi sekaligus melemahkan pikiran sehingga berbagai pikiran positif dalam diri semakin berkurang. Pengendalian perasaan seperti suka dan tidak suka, keinginan dan amarah menjadi bagian penting dalam proses memperoleh kesadaran diri dan pengetahuan tentang Atma.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut menekankan bahwa manusia perlu mengendalikan nafsu serta amarah agar tidak terus terikat pada berbagai urusan duniawi. “Kendalikan amarah, kuasai nafsu,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa kemarahan bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan, melainkan berpotensi membuat keadaan semakin rumit. “Amarah tidak akan bisa memecahkan masalah, tapi sebaliknya amarah itu hanya akan memperkeruh suasana,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....