Menguak Misteri Arca Sejoli Pura Pucak Penulisan
- 14 Sep 2026 08:48 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Arca merupakan sebuah peninggalan purbakala bernilai sejarah tinggi. Berbagai macam arca, salah satunya Arca Sejoli atau Arca Sepasang yang hingga kini tersimpan rawan di Pelinggih Sita, Pura Pucak Penulisan, Kabupaten Bangli.
Dilansir dari berbagai sumber, objek cagar budaya yang dipahat menggunakan media batu padas dengan tinggi 68 sentimeter ini memiliki keunikan tersendiri karena memuat inskripsi kuno di bagian belakang batu sandarannya (stela). Prasasti tiga baris tersebut digores menggunakan huruf Kediri Kuadrat dan bahasa Jawa Kuno, yang secara gamblang menyebutkan angka tahun pahatannya, yakni 933 Saka atau 1011 Masehi.
Meskipun memuat penanggalan yang sangat presisi, prasasti pada Arca Sejoli ini hanya mencantumkan nama sang maestro pemahat, yaitu Mpu Bga, tanpa menyebutkan identitas dari sepasang tokoh yang diarcakan tersebut. Secara visual, Arca Sejoli digambarkan dalam posisi berdiri tegak (samabangga) di atas satu lapik bersegi empat dengan hiasan motif patra pipid. Struktur arca kembar ini dipisahkan oleh sebuah sekat pembatas dari bawah hingga ke atas, di mana arca laki-laki ditempatkan pada posisi sekat sebelah kanan, sementara arca perempuan berdiri di sekat sebelah kiri.
Daya tarik utama yang paling memikat para peneliti dari perwujudan fisik Arca Sejoli ini terletak pada detail hiasan kain tunggal yang menjulur hingga ke pergelangan kaki. Pakaian batu tersebut dipahat secara luar biasa menggunakan dasar motif kotak-kotak segi empat yang diberi guratan lekukan rumit hingga membentuk bunga mekar. Setiap ukiran bunga dibatasi oleh garis menyilang, sebuah pola hias klasik yang di tanah Jawa dikenal dengan sebutan motif kawung, sedangkan dalam tradisi seni rupa Bali disebut sebagai patra mas-masan.
Kejelian seniman masa lalu juga terlihat dari aspek asimetris yang sengaja diterapkan pada detail bagian bawah pakaian kedua tokoh. Pada arca laki-laki, motif pahatan kain di kaki bagian kiri dibuat berukuran lebih lebar dibandingkan sisi kanannya yang tampak lebih sempit. Fenomena visual tersebut dipahat secara berkebalikan pada arca perempuan, di mana lipatan kain pada bagian kaki kanan justru sengaja dibuat lebih lebar ketimbang kain pada bagian kaki kirinya yang didesain menjuntai lebih sempit.
Selain keunikan kain, kedua arca yang berdiri dalam posisi tangan menengadah membawa bulatan padma ini juga dilengkapi dengan ornamentasi perhiasan yang sangat megah. Tubuh sepasang arca dihiasi oleh selendang (sampur) bermotif manik-manik atau patra taluh kakul, juntaian kain lipat (wiru), serta hiasan mahkota kirita bermotif segi tiga. Kemewahan gaya busana era kuno tersebut semakin dipertegas lewat pahatan jamang bersulur, anting-anting bunga yang menjulur menyentuh bahu, hiasan telinga (sumping), kalung, hingga gelang sejajar di bagian lengan, tangan, dan pergelangan kaki.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....