ketika Bermain Menjadi Cara Belajar Menghadapi Kehidupan
- 14 Sep 2026 07:24 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Aktivitas bermain bagi anak-anak sejatinya bukan sekadar pengisi waktu senggang atau sarana hiburan visual semata. Melalui permainan tradisional Bali, arena bermain bertransformasi menjadi laboratorium kehidupan tempat generasi muda mengasah ketangguhan fisik, kematangan emosional, dan rasa kebersamaan sejak dini.
Dalam acara Rahajeng Bali pada Kamis, 10 September 2026, Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBD Provinsi Bali, I Gede Alit Wijaya, bersama Kepala Bidang Tradisi Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Putu Sutaryana, menegaskan bahwa nilai-nilai dalam permainan tradisional mengajarkan filosofi hidup mendasar yang sangat relevan untuk membentuk karakter anak.
Dinamika permainan tradisional Bali secara alami membekali anak-anak dengan berbagai keterampilan sosial dan mental yang dibutuhkan dalam mengarungi kehidupan nyata:
- Kecerdasan Emosional dan Resiliensi : Permainan kelompok seperti megoak-goakan atau megala-galaanmengajarkan anak untuk menerima kekalahan secara sportif dan bangkit kembali untuk mencoba lagi. Mentalitas pantang menyerah ini membangun benteng psikologis agar anak tidak mudah larut dalam trauma atau tekanan saat menghadapi situasi krisis.
- Kerja Sama dan Menekan Ego : Keberhasilan permainan tradisional bergantung pada solidaritas kelompok, bukan kehebatan individu semata. Anak-anak belajar bahwa pencapaian bersama membutuhkan komunikasi yang jelas, rasa saling percaya, serta kesadaran untuk menekan ego pribadi demi kepentingan tim.
- Pengasahan Insting Kesiapsiagaan Fisik : Permainan tradisional melatih respons spontan, keseimbangan tubuh, dan koordinasi motorik. Keterampilan ini membentuk refleks fisik yang adaptif, baik dalam bernavigasi di lingkungan sosial sehari-hari maupun saat melakukan penyelamatan mandiri sewaktu bencana terjadi.
- Penguatan Ikatan Sosial Berbasis Komunitas : Berbeda dengan aktivitas gawai yang cenderung memicu isolasi mandiri, bermain bersama di tanah lapang atau Banjar mempererat silaturahmi, menumbuhkan empati, dan membangun kepedulian terhadap sesama kawan.
Mengembalikan kebiasaan bermain tradisional di ruang-ruang publik menjadi investasi jangka panjang yang krusial bagi tumbuh kembang anak. Dengan menjadikan kearifan lokal sebagai media belajar, generasi muda Bali tidak hanya dirawat identitas budayanya, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang tangguh, peka secara sosial, dan siap menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....