Warisan Leluhur yang Bisa Menjadi Latihan Ketangguhan
- 14 Sep 2026 07:21 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Permainan dan olahraga tradisional Bali menyimpan warisan kearifan leluhur yang sangat berharga dalam membentuk ketangguhan fisik serta mental masyarakat. Berbagai tradisi seperti megoak-goakan, egrang, gala-gala, hingga panjat pinang tidak hanya berfungsi melestarikan budaya, tetapi juga secara praktis melatih kesiapsiagaan dan respons mandiri warga saat menghadapi situasi krisis bencana alam.
Dalam acara Rahajeng Bali pada Kamis, 10 September 2026, Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBD Provinsi Bali, I Gede Alit Wijaya, bersama Kepala Bidang Tradisi Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Putu Sutaryana, menegaskan bahwa permainan tradisional berkelompok merupakan sarana simulasi bertahan hidup (survival skills) yang diwariskan secara turun-temurun.
Ketangkasan yang dilatih melalui permainan tradisional dapat dikonversi secara praktis menjadi kemampuan evakuasi mandiri dan ketahanan sosial :
- Keseimbangan Tubuh Saat Guncangan Gempa: Permainan berbasis keseimbangan seperti egrang dan tajok menguatkan otot inti (core muscle) serta refleks tubuh. Keterampilan ini membantu seseorang menjaga posisi tetap tegak dan berlari menyelamatkan diri tanpa mudah terjatuh saat permukaan tanah bergoncang.
- Kemampuan Evakuasi Mandiri Saat Banjir: Keterampilan memanjat pada panjat pinang mengasah kekuatan cengkraman tangan (grip strength) dan koordinasi otot tubuh. Keahlian ini terkonversi langsung menjadi kemampuan evakuasi vertikal mandiri, seperti memanjat pohon, tiang, atau atap rumah untuk menghindari arus air deras.
- Refleks Menghindari Bahaya Reruntuhan: Permainan ketangkasan dan seni bela diri tradisional melatih kelincahan kaki untuk berbelok serta bergerak cepat dalam ruang sempit. Kemampuan ini vital untuk menghindar dari material bangunan yang jatuh atau puing-puing tajam yang terbawa arus.
- Mentalitas Tangguh dan Pemulihan Trauma: Filosofi permainan tradisional mengajarkan sportivitas serta keberanian untuk bangkit kembali setelah mengalami kekalahan. Aspek psikologis ini membentuk ketahanan emosional warga agar tidak mudah panik saat krisis dan lebih cepat pulih dari trauma pascabencana.
Upaya melestarikan warisan budaya takbenda ini difokuskan pada anak-anak usia sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMP. Melalui aktivitas bermain yang menyenangkan di lapangan Banjar dan tanah lapang desa, anak-anak tidak hanya diajak untuk mencintai budaya lokalnya, tetapi juga dibekali insting kesiapsiagaan bencana sejak dini.
Sinergi antara nilai-nilai tradisi dan simulasi keselamatan ini membuktikan bahwa kearifan lokal Bali mampu menjadi benteng pertahanan masyarakat yang adaptif, tangguh, serta responsif dalam menjaga keselamatan bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....