Permainan Tradisional Bali, Bukan Sekadar Hiburan

  • 14 Sep 2026 07:18 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Permainan tradisional Bali seperti megoak-goakan, matajog, hingga megala-galaan menyimpan kedalaman fungsi sosial yang jauh melampaui sarana hiburan anak-anak. Selain merawat warisan budaya takbenda, olahraga tradisional ini bertindak sebagai simulasi sosial sekaligus latihan ketangkasan fisik dan mental dalam menghadapi situasi krisis bencana alam.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Kamis, 10 September 2026, Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBD Provinsi Bali, I Gede Alit Wijaya, bersama Kepala Bidang Tradisi Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Putu Sutaryana, mengungkapkan bahwa dinamika lapangan permainan tradisional secara otomatis mengasah 'otot sosial' dan resiliensi masyarakat.

Gerakan dan mekanisme dalam berbagai permainan tradisional Bali melatih sejumlah keterampilan bertahan hidup (survival skills) yang krusial saat bencana terjadi, seperti:

  • Latihan Keseimbangan dan Respon Gempa : Permainan berbasis keseimbangan seperti matajog menguatkan otot inti (core muscle) dan refleks tubuh, yang berguna untuk menjaga posisi tetap tegak dan menghindari reruntuhan saat terjadi guncangan gempa bumi.
  • Ketangkasan Evakuasi Vertikal : Keterampilan memanjat pada panjat pinang melatih kekuatan cengkraman tangan dan koordinasi tubuh, yang dapat terkonversi secara praktis menjadi kemampuan memanjat pohon atau atap rumah saat banjir bandang.
  • Koordinasi Komunikasi dan Gotong Royong: Permainan kelompok seperti megoak-goakan dan megala-galaan melatih komunikasi cepat, kepercayaan, serta pembagian peran spontaneous. Dalam kondisi krisis, modal sosial ini langsung bertransformasi menjadi aksi nyata seperti pengelolaan dapur umum dan jalur evakuasi.
  • Pembentukan Ketahanan Psikologis (Resiliensi) : Filosofi permainan yang mengajar keberanian untuk bangkit setelah kalah membentuk mentalitas tangguh pada anak-anak, sehingga mereka tidak mudah larut dalam trauma pascabencana.

Pemanfaatan lapangan Banjar dan tanah lapang desa menjadi sangat vital, tidak hanya sebagai arena interaksi budaya bagi anak-anak usia sekolah (SD hingga SMP), tetapi juga berfungsi strategis sebagai titik kumpul aman saat tanggap darurat.

Sinergi antara penguatan nilai budaya dan edukasi kebencanaan ini menjadi langkah mendasar dalam membangun generasi muda Bali yang tidak hanya bangga akan tradisinya, tetapi juga tangguh dan siap siaga menghadapi dinamika alam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....