Menelusuri Jejak Seni Arca Nusantara

  • 14 Sep 2026 08:13 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID,Denpasar - Dilansir dari berbagai sumber, perkembangan seni arca di Indonesia terbukti memiliki akar sejarah sangat panjang dan mendalam, bahkan sudah dimulai sejak zaman prasejarah. Bukti nyata dari fase awal ini terlihat pada keberadaan arca-arca tipe Polinesia yang dianggap sebagai hasil kebudayaan asli bangsa Melayu Polinesia.

Berdasarkan catatan sejarah, arca tipe awal ini merepresentasikan wujud manusia dengan bentuk purba yang sangat sederhana dan teknik pembuatan yang masih kasar. Ketidakseimbangan proporsi dari pahatan kepala hingga badan mencerminkan tingkat kebudayaan masa lalu yang masih berada pada tahap awal perkembangannya. Peninggalan bernilai tinggi dari era pra-pengaruh asing ini banyak ditemukan di wilayah pedalaman dan pegunungan seperti di daerah Seranglimo, Pasir Aki, Kuningan, serta Cirebon.

Para ahli menegaskan bahwa arca purba ini lahir di kawasan yang sama sekali tidak tersentuh oleh peradaban luar. Karakteristik visualnya yang unik dan autentik membuktikan bahwa karya-karya tersebut murni merupakan hasil kreativitas dan ciptaan penduduk asli Nusantara, tanpa adanya intervensi atau bantuan dari kebudayaan asing. Memasuki masa perkembangan kerajaan Hindu di tanah Jawa, seni arca Nusantara mulai mengalami transformasi besar seiring masuknya unsur seni asing, khususnya pengaruh gaya seni Gupta dari India. Pengaruh estetika India ini mencapai puncak kejayaannya di bawah naungan Dinasti Sanjaya dan Dinasti Sailendra. Menariknya, perbedaan sistem kepercayaan yang dianut oleh kedua dinasti besar tersebut turut memberikan warna baru dan memengaruhi motif artistik dari setiap karya arca yang dipahat oleh para seniman pada masa itu.

Aliran seni yang berkembang pada masa Dinasti Sailendra ini kemudian meluas secara masif melintasi batas geografis hingga mencapai Sumatra dan Bali. Di Pulau Dewata, jejak keindahan seni arca bermutu tinggi ini dapat disaksikan langsung di situs Goa Gajah melalui keberadaan arca Buddha dan reliefnya. Seni arca periode ini memiliki ciri khas penggarapan yang sangat halus, dengan detail pakaian tipis yang mengikuti lekukan tubuh secara proporsional demi menonjolkan nilai estetika yang tinggi.

Evolusi seni batu ini terus bergulir dinamis dan memperkokoh posisi Bali yang tidak pernah sepi dari aktivitas kesenian hingga memasuki era Bali Kuno dan Bali Madya. Peninggalan sakral seperti Arca Sejoli dan Bhatari Mandul di Pura Pucak Penulisan menjadi bukti sahih adanya kontribusi besar dari para sulpika atau pemahat legendaris masa lalu, seperti Mpu Bga dan Kaki Nami. Melalui guratan prasasti bertahun 1011 Masehi yang berbunyi sira Mpu Bga anatah, sejarah abadi mencatat bahwa tradisi memahat Indonesia telah melahirkan maestro-maestro hebat sejak berabad-abad silam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....