Tepung Tawar, Tradisi Sederhana dengan Makna Penyucian

  • 11 Sep 2026 13:50 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Dalam setiap denyut tradisi dan ritual umat Hindu di Bali, keberadaan upakara tak pernah lepas dari pemanfaatan tumbuh-tumbuhan atau patram. Salah satu sarana penyucian yang tampak sederhana namun memiliki kedalaman makna filosofis, ilmiah, dan sakral adalah Tepung Tawar.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 8 September 2026 bersama Nengah Rasmiyati, diuraikan bahwa Tepung Tawar merupakan wujud nyata dari ajaran Patram Saucam, yakni metode pembersihan diri dan sarana fisik menggunakan media dedaunan sebagaimana tersurat dalam sastra suci Bhagavad Gita, Manawadharmasastra, hingga Sarasamuscaya sloka 265.

Tepung Tawar diolah dari tiga bahan alami utama yang mencerminkan simbolisme kekuatan Tri Murti (Brahma, Vishnu, Siwa):

  • Daun Dadap (Kayu Sakti) : Memiliki keunikan alami karena selalu terdiri dari tiga helai daun dalam satu tangkai. Berdasarkan pustaka Taru Pramana, tumbuhan ini diyakini telah mendapat penyupatan dan anugerah dari Sang Hyang Siwa sebagai sarana penyucian.
  • Kunyit: Secara ilmiah mengandung antiseptik alami yang berkhasiat menyembuhkan dan menetralisir. Secara spiritual, warnanya melambangkan kekuatan sakral.
  • Beras atau Tepung Beras: Melambangkan saripati makanan dan sumber energi kehidupan (inti sari kehidupan).

Ketiga bahan ini ditumbuk hingga menyatu. Perpaduan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pembersih secara fisik (sekala), tetapi juga memancarkan kekuatan spiritual (niskala) untuk menetralisir letah (kotoran) dan lara roge (penyakit/penderitaan).

Dalam prakteknya, Tepung Tawar kerap diletakkan pada wadah penyeneng bersama beras dan nasi segau. Sarana ini hampir selalu hadir dalam berbagai tingkatan upacara, mulai dari ritual Otonan, Melaspas, Biokawan, hingga Ngodalin.

Prosesi pembersihan menggunakan Tepung Tawar bertujuan untuk menyucikan diri manusia, sarana banten, serta tempat ibadah (perlinggih). Ritual ini sama sekali bukan untuk menyucikan Sang Hyang Widhi Wasa, karena Tuhan telah meraga suci. Dengan memahami tatwa dan makna sastra di balik ramuan sederhana ini, masyarakat diajak untuk beragama secara utuh, tidak sekadar menjalankan tradisi, melainkan menghayatinya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....