Jaya Negara Ngayah Nyangging di Metatah Massal Desa Adat Panjer
- 30 Agt 2026 10:41 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara turut ngayah nyangging dalam pelaksanaan Upacara Metatah (Mesangih) Massal yang digelar Desa Adat Panjer di Lapangan Wantilan Desa Adat Panjer, Sabtu 29 Agustus 2026. Tak hanya Jaya Negara, anggota DPD RI I.B. Rai Dharmawijaya Mantra dan anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya juga turut ngayah nyangging dalam rangkaian upacara tersebut.
Metatah Massal ini merupakan bagian dari rangkaian Karya Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya Atma Wedana (Nyekah Kurung Nyatur Muka) yang dilaksanakan Desa Adat Panjer. Tahun ini, sebanyak 266 peserta mengikuti prosesi Metatah Massal, jumlah yang disebut menjadi yang terbesar sepanjang pelaksanaan kegiatan yang digelar setiap empat tahun sekali tersebut.
Jaya Negara mengapresiasi Jero Bendesa Adat Panjer beserta jajaran dan krama yang melaksanakan karya secara gotong royong. Menurutnya, pelaksanaan karya tersebut menjadi wujud dharma, termasuk dharmaning negara, melalui kolaborasi antara Pemerintah Kota Denpasar dan Desa Adat Panjer.
“Atas nama Pemerintah Kota Denpasar, kami mengucapkan terima kasih kepada Jero Bendesa Adat Panjer beserta seluruh jajaran yang telah melaksanakan karya ini. Ini merupakan wujud dharma, termasuk dharmaning negara, melalui kerja sama antara Pemerintah Kota Denpasar dengan Desa Adat Panjer,” ujar Jaya Negara.
Ia mengatakan pelaksanaan upacara secara massal menjadi bentuk nyata kolaborasi pemerintah dan desa adat dalam meringankan beban masyarakat menjalankan swadharma keagamaan. Pemkot Denpasar turut memberikan dukungan dana sebesar Rp1 miliar untuk membantu pelaksanaan karya tersebut.
“Walaupun bantuan ini tidak maksimal, kami memberikan dukungan sebesar Rp1 miliar, sementara kekurangannya dilaksanakan secara gotong royong. Saya kira tidak ada masyarakat yang mengeluarkan biaya. Mudah-mudahan pola seperti ini bisa kita bangun, tidak hanya di bidang spiritual dan mental, tetapi juga dalam berbagai bidang lainnya, sehingga harmonisasi dapat kita bangun di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya.
Menurut Jaya Negara, semangat gotong royong dan kebersamaan perlu terus dikembangkan di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang semakin berkembang. Sementara itu, Bendesa Adat Panjer AA Ketut Oka Adnyana mengatakan pelaksanaan karya tersebut merupakan bagian dari komitmen Desa Adat Panjer untuk membantu meringankan beban finansial krama dalam menjalankan kewajiban keagamaan.
Rangkaian karya diawali dengan Pitra Yadnya berupa upacara Warak Kururon, Ngelungah, dan Nglangkir yang telah dilaksanakan pada 24–25 Mei 2026. Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan Metatah atau Mesangih Massal dan persiapan menuju upacara Atma Wedana atau Memukur.
“Upacara Atma Wedana ini bertujuan untuk meningkatkan penyucian roh pitara menuju Sunia Loka. Namun sebelum puncak Memukur dilaksanakan, kami menyelenggarakan upacara Metatah Massal,” ujar Oka Adnyana.
Dari 266 peserta Metatah Massal, peserta tidak hanya berasal dari krama Desa Adat Panjer. Masyarakat dari luar wilayah Desa Adat Panjer juga diperbolehkan mengikuti prosesi tersebut.
Sementara itu, prosesi Memukur nantinya akan diikuti 212 puspa dan dijadwalkan berlangsung pada 6 September 2026.
Oka Adnyana menegaskan seluruh rangkaian upacara dilaksanakan secara gratis tanpa membebani masyarakat. Pembiayaan ditopang melalui kas Desa Adat Panjer, LPD, serta unit-unit usaha yang dikelola desa adat. Selain itu, pelaksanaan karya juga mendapat dukungan dana Rp1 miliar dari Pemerintah Kota Denpasar.
“Krama tidak dibebani biaya alias gratis. Kami tidak menetapkan standar biaya sama sekali. Hanya memberikan punia, kami persilakan seikhlasnya sebagai wujud rasa syukur,” ungkapnya.
Ia berharap seluruh krama dapat mengikuti rangkaian upacara dengan penuh ketenangan dan kesucian serta berlandaskan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha. Nilai tersebut diharapkan menjadi tuntunan bagi umat dalam mengendalikan hawa nafsu dan Sad Ripu, yakni enam musuh yang terdapat dalam diri manusia.
Ke depan, Oka Adnyana berharap pelaksanaan karya yang rutin digelar setiap empat tahun sekali tersebut terus mendapat dukungan masyarakat. Dengan fasilitas upacara massal yang ditanggung desa adat, krama diharapkan tidak perlu mengeluarkan biaya besar secara mandiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....