Seteguk Teh Hijau, Hidup Tidak Harus Selalu Manis agar Layak Disyukuri

  • 20 Agt 2026 12:46 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Program Surya Puja RRI membahas filosofi teh hijau sebagai metafora kehidupan dengan pesan bahwa setiap pengalaman, termasuk yang pahit, dapat memberikan pelajaran berharga.
  • Twin Jayantari menekankan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan, sehingga manusia perlu menerima suka dan duka sebagai bagian integral dari perjalanan hidup.
  • Pengalaman yang awalnya terasa berat dan pahit dapat menjadi sarana pembentukan pribadi yang lebih kuat, matang, dan penuh kebijaksanaan dalam perspektif Hindu.

RRI.CO.ID, Denpasar - Program siaran Surya Puja RRI mengangkat tema “Seteguk Teh Hijau, Seteguk Kebijaksanaan Hidup dalam Perspektif Hindu” bersama Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung I Gusti Ayu Twin Jayantari, Kamis 20 Agustus 2026 yang mengajak pendengar memaknai kehidupan melalui filosofi secangkir teh hijau. “Hidup itu tidak harus selalu manis agar tetap layak untuk disyukuri,” menjadi pesan utama bahwa setiap pengalaman, termasuk rasa pahit dapat menghadirkan pelajaran bagi kehidupan.

Twin Jayantari menjelaskan, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan manusia sehingga suka dan duka perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup. “Tidak semua rasa pahit harus selalu dihindari,” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa pengalaman yang awalnya terasa berat dapat membentuk pribadi menjadi lebih kuat dan matang.

Dalam perspektif Hindu suka dan duka merupakan dua pengalaman yang silih berganti dan tidak bersifat kekal sehingga manusia perlu memiliki keseimbangan dalam menghadapi setiap keadaan.

“Tidak ada keadaan yang benar-benar abadi,” ungkapnya. Menurutnya, kebahagiaan tidak seharusnya membuat seseorang terlena, sementara kesedihan juga tidak semestinya membuat seseorang kehilangan harapan.

Filosofi teh hijau kemudian dianalogikan dengan perjalanan kehidupan, di mana air panas dibutuhkan agar aroma dan rasa teh keluar, tetapi panas yang berlebihan justru dapat membuat rasanya terlalu pahit. “Tekanan memang sering kali membuat kita bertumbuh, tetapi jika kita membiarkan emosi menguasai diri, kita justru kehilangan kejernihan dalam melihat persoalan,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa penderitaan sering kali bukan semata-mata disebabkan keadaan, melainkan karena manusia menolak kenyataan yang sedang dihadapi dan terlalu memaksakan hasil sesuai keinginan. “Yang perlu diubah bukan selalu keadaan di luar diri kita, melainkan cara kita memandang keadaan itu,” katanya.

Dalam dialog tersebut, ajaran Bhagavad Gita juga dikaitkan dengan pentingnya melakukan usaha secara sungguh-sungguh tanpa menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya pada hasil akhir. “Kita diminta memberikan yang terbaik dalam setiap tindakan, tanpa menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya pada hasil akhirnya,” tutur Twin Jayantari.

Filosofi teh hijau juga dikaitkan dengan kualitas batin manusia, karena masalah kehidupan akan selalu datang dan pergi sedangkan cara seseorang menghadapinya sangat bergantung pada kualitas pikiran dan hati. “Semakin matang batin seseorang, semakin tenang pula ia menghadapi berbagai rasa kehidupan,” ujarnya.

Selain itu, pembahasan menyinggung ajaran Tri Kaya Parisudha yang mengajarkan keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. “Ketika kita mampu menjaga pikiran tetap bersih, ucapan menjadi lebih lembut dan tindakan pun bisa lebih baik,” katanya.

Melalui tema tersebut, pendengar diajak tidak berpura-pura kuat ketika menghadapi persoalan tetapi tetap jujur terhadap perasaan sekaligus menjaga kepercayaan kepada Tuhan. “Kita tidak harus berpura-pura kuat setiap saat yang terpenting jangan berhenti melangkah dan jangan kehilangan kepercayaan bahwa Tuhan selalu berjalan bersama kita,” pesan Twin Jayantari.

Di akhir pembahasan, filosofi teh hijau menjadi pengingat bahwa setiap pengalaman memiliki peran dalam mendewasakan manusia dan mendekatkannya pada nilai-nilai dharma. “Dalam setiap rasa, Tuhan selalu ada pelajaran yang sedang menempa jiwa kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lebih kuat, dan lebih bersyukur,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....