Mengapa Banjar Menjadi Garda Terdepan saat Bencana?

  • 14 Agt 2026 14:36 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar Ketika musibah menerpa mulai dari pohon tumbang, kebakaran, hingga guncangan gempa bumi, pertolongan pertama yang paling cepat merespons sering kali bukan berasal dari sirine mobil pemadam atau regu penyelamat yang melaju dari jauh. Pertolongan paling nyata justru datang dari tetangga sebelah rumah. Di Bali, ikatan komunal yang terwujud dalam tatanan banjar terbukti menjadi fondasi paling tangguh dan terdepan dalam penyelamatan warga saat situasi darurat.

Peran krusial banjar sebagai benteng pertahanan pertama kebencanaan ini dibahas dalam tuntas acara Rahajeng Bali, pada Kamis, 13 Agustus 2026, Bersama Kepala Bidang Pemajuan Hukum Adat Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (PMA) Provinsi Bali, Ida Bagus Rai Dwija, serta Analis Kebencanaan Ahli Pertama BPBD Provinsi Bali, Ni Made Ayu Juli Antari, SE.

Faktor utama yang membuat banjar menjadi garda terdepan adalah kedekatan fisik dan ikatan emosional antarwarga. Ketika bencana terjadi, jeda waktu adalah penentu keselamatan. Penanganan resmi dari pemerintah kerap memerlukan waktu untuk mobilisasi petugas dan bantuan logistik menuju lokasi.

Analis Kebencanaan Ahli Pertama BPBD Provinsi Bali, Ni Made Ayu Juli Antari, SE, menjelaskan bahwa kepedulian spontan warga banjar mampu menekan risiko kerugian sebelum tim medis atau pemadam kebakaran tiba."Pemerintah tentu membutuhkan waktu untuk menurunkan bantuan logistik maupun memindahkan puing-puing. Kita tidak bisa hanya pasif menunggu. Spontanitas warga di banjar seperti bahu-membahu memadamkan titik api awal atau menolong tetangga merupakan kunci utama mitigasi bencana di tingkat lokal," ujarnya.

Kecepatan aksi warga banjar bukan sekadar reflek fisik, melainkan digerakkan oleh nilai kebudayaan luhur yang diwarisi turun-temurun. Falsafah Salunglung Sebayantaka (suka duka ditanggung bersama) dan Menyama Braya (menganggap sesama sebagai saudara) membentuk modal sosial yang luar biasa kuat.

Kabid Pemajuan Hukum Adat Dinas PMA Provinsi Bali, Ida Bagus Rai Dwija, menegaskan bahwa kebiasaan bergotong royong dalam kegiatan adat harian (ngayah) membuat warga tidak canggung saat harus bekerja sama dalam situasi krisis.

"Tradisi ngayah dan aturan adat (Awig-Awig) telah mengakar di setiap banjar. Kebiasaan saling bantu ini membuat rasa kemanusiaan warga terasah secara otomatis. Saat musibah terjadi, spirit gotong royong itu langsung aktif tanpa perlu diminta," tegas.

Guna memastikan aksi gotong royong warga berjalan aman dan sesuai standar keselamatan, BPBD Provinsi Bali terus memperkuat kolaborasi bersama desa-desa adat melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana).

Melalui edukasi kebencanaan yang rutin digelar hingga tingkat banjar, kearifan lokal Bali tidak hanya berfungsi melestarikan budaya, tetapi juga mentransformasi banjar menjadi sistem perlindungan masyarakat yang modern, sigap, dan tangguh bencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....