Gotong Royong Menjadi Kunci Kesiapsiagaan Bencana di Bali

  • 14 Agt 2026 14:34 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar Bencana alam sering kali datang tanpa memberikan tanda. Ketika musibah seperti gempa bumi atau kebakaran melanda suatu wilayah, kecepatan dalam merespons menjadi penentu utama antara keselamatan dan kerugian fatal. Dalam situasi darurat ini, sebelum bantuan logistik maupun petugas penolong dari pemerintah tiba di lokasi, aksi tanggap spontan berbasis gotong royong masyarakatlah yang menjadi garda terdepan penyelamatan.

Pentingnya kebersamaan sebagai fondasi utama kesiapsiagaan dan manajemen risiko bencana dikupas tuntas acara Rahajeng Bali, pada Kamis, 13 Agustus 2026, bersama Kepala Bidang Pemajuan Hukum Adat Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (PMA) Provinsi Bali Ida Bagus Rai Dwija serta Analis Kebencanaan Ahli Pertama BPBD Provinsi Bali, Ni Made Ayu Juli Antari, SE.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, peristiwa bencana memang tidak selalu bisa dihindari, namun dampak dan tingkat risiko kerugiannya dapat ditekan secara signifikan.

Analis Kebencanaan Ahli Pertama BPBD Provinsi Bali, Ni Made Ayu Juli Antari, SE, menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat di tingkat terkecil, seperti lingkungan banja memiliki peran paling vital pada momen-momen kritis pascabencana.

"Ketika terjadi bencana, peran utamanya adalah masyarakat itu sendiri. Pemerintah tentu memerlukan waktu untuk terjun memberikan bantuan logistik atau pembersihan puing. Kita tidak bisa hanya menunggu. Respons spontan warga di banjar, seperti saling bantu memadamkan api sebelum Damkar tiba atau menolong tetangga, menjadi kunci agar dampak tidak makin meluas," jelas Ayu Juli.

Agar aksi gotong royong warga dapat berjalan secara efektif dan aman sesuai standar operasional keselamatan kebencanaan, BPBD Provinsi Bali bersama BPBD Kabupaten/Kota gencar membentuk serta mengedukasi Desa Tangguh Bencana (Destana).

Program edukasi berkala ini menyasar wilayah-wilayah yang memiliki kerawanan bencana, seperti kawasan pesisir di Kediri (Tabanan) hingga desa-desa di Kabupaten Badung. Edukasi kebencanaan tidak hanya diberikan kepada perangkat desa, melainkan merangkul seluruh elemen masyarakat:

  1. Pemuda (Yowana/Truna-Truni): Dibekali pemahaman dasar respons cepat dan evakuasi mandiri di tingkat banjar.
  2. Ibu-Ibu PKK: Diberikan edukasi mengenai manajemen risiko keluarga dan kesiapsiagaan logistik darurat.
  3. Desa Adat & Tokoh Masyarakat: Menguatkan jalur koordinasi dan komunikasi pelaporan ke dinas terkait.

Aksi gotong royong tanggap bencana di Bali diikat kuat oleh filosofi luhur Salunglung Sebayantaka (suka duka ditanggung bersama) dan semangat Menyama Braya (persaudaraan). Kabid Pemajuan Hukum Adat Dinas PMA Provinsi Bali, Ida Bagus Rai Dwija, menambahkan bahwa ikatan sosial di desa adat yang diatur melalui Awig-Awig dan Perarem membuat rasa kepedulian antarwarga tetap terjaga secara alami. Kebiasaan bergotong royong dalam kegiatan adat harian menjadi modal sosial yang sangat kuat saat terjadi situasi darurat.

Melalui perpaduan antara kearifan lokal Salunglung Sebayantaka dan pemahaman mitigasi bencana modern, masyarakat tidak hanya tangguh secara budaya, tetapi juga siap dan sigap melindungi lingkungan serta sesama dari ancaman bencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....