Menyingkap Pertemuan Sakral Anggara Kasih dan Hari Tilem

  • 16 Agt 2026 21:53 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID,Denpasar- Pertemuan dua hari suci sakral yakni Anggara Kasih dan Hari Tilem, menjadi momen spiritual langka yang dimanfaatkan umat Hindu Bali,untuk memohon peleburan dosa serta kedamaian alam semesta. Pembahasan mengenai keunikan fenomena spiritual ini, dikupas secara mendalam oleh Penyuluh Ahli Madya Agama Hindu Kementerian Agama ( Kemenag) Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana,S.Ag.,M.Si.,

Dalam siaran Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar pada Selasa, 11 Agustus 2026, Suana menjelaskan keistimewaan, ketika kedua hari suci tersebut jatuh pada waktu yang bersamaan. "Ketika hari Anggara Kasih jatuh bersamaan dengan Hari Tilem, hari tersebut menjadi sangat sakral karena merupakan waktu yang sangat baik untuk melakukan meditasi, penyucian diri, dan memohon peleburan dosa," ujar Suana.

Suana menambahkan kedua hari suci ini memiliki hubungan filosofis yang sangat erat dalam ajaran Hindu Bali, karena sama-sama berfokus pada hari penyucian (panawangan). Jika Anggara Kasih berfokus pada pembersihan jiwa manusia dari sifat egois, maka Hari Tilem berfokus pada pembersihan alam semesta dari kegelapan spiritual (awidya).

Ia juga menerangkan perbedaan fokus pemujaan antara kedua momen sakral tersebut, agar umat tidak keliru dalam melangsungkan ritual. "Anggara Kasih cenderung ditujukan untuk menenangkan kekuatan alam bawah di pekarangan rumah, sedangkan Tilem berfokus pada pembersihan air, udara, dan bumi serta memohon berkah kedamaian kepada para leluhur," jelas Suana.

Suana mengungkapkan dalam tradisi penyucian ini, pemujaan Dewa Siwa dilakukan dalam dua manifestasi, yang saling melengkapi bagi keharmonisan hidup manusia. Pada Hari Tilem, Dewa Siwa dipuja sebagai Sang Hyang Surya Raditya yang beryoga melebur kegelapan batin, sementara Anggara Kasih memuja Dewa Siwa saat melakukan yoga samadhi melebur kekotoran dunia.

Sinergi energi dari kedua hari suci ini diyakini memberikan kekuatan ganda, dalam menetralkan berbagai aura negatif yang mengganggu ketenteraman hidup. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan memperbanyak aktivitas spiritual seperti Samadhi, dan pembersihan batin guna mencapai ketenangan jiwa yang sejati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....