Crush Recession: Generasi Muda Tak Lagi Antusias Jatuh Cinta
- 12 Agt 2026 10:20 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – "Siapa gebetanmu sekarang?" Pertanyaan yang dulu terasa biasa kini mulai sulit dijawab oleh sebagian anak muda. Fenomena ini dikenal sebagai crush recession, yaitu kondisi ketika keinginan untuk memiliki gebetan atau menjalin hubungan romantis mulai menurun.
Meski belum menjadi istilah ilmiah, fenomena ini memiliki keterkaitan dengan berbagai penelitian. Survei Singles in America 2025 dari Match dan Kinsey Institute menemukan bahwa lebih dari separuh responden mengalami dating burnout, yakni kelelahan emosional akibat proses mencari pasangan yang berulang.
Perkembangan aplikasi kencan juga turut memengaruhi cara orang membangun hubungan. Penelitian Bruch dan Newman (2018) menunjukkan bahwa banyaknya pilihan pasangan dapat memicu choice overload, yaitu kondisi ketika terlalu banyak pilihan justru membuat seseorang kesulitan mengambil keputusan.
Selain itu, prioritas generasi muda juga mengalami perubahan. Dalam bukunya Happy Singlehood (2022), sosiolog Elyakim Kislev menjelaskan bahwa semakin banyak orang merasa hidup tetap bermakna tanpa pasangan karena lebih fokus pada karier, kesehatan mental, dan pengembangan diri.
Pengalaman hubungan yang kurang menyenangkan juga membuat banyak orang lebih berhati-hati. Penelitian Joel dkk. (2024) menunjukkan bahwa pengalaman romantis sebelumnya dapat memengaruhi kualitas dan cara seseorang menjalani hubungan di masa depan.
Pada akhirnya, crush recession bukan berarti generasi muda berhenti percaya pada cinta. Fenomena ini justru menunjukkan bahwa banyak orang kini lebih memilih menunggu hubungan yang sehat dan bermakna daripada sekadar memiliki gebetan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....