Pikiran Tak Terkendali, Awal Konflik di Media Sosial

  • 10 Agt 2026 15:04 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Pengendalian pikiran merupakan hal penting untuk menghadapi derasnya arus informasi di era media sosial dan mencegah konflik.
  • Media sosial memiliki manfaat dalam komunikasi dan penyebaran informasi, namun pengguna perlu menyadari potensi munculnya emosi dari informasi yang diterima.
  • Banyak perdebatan, kemarahan, dan permusuhan di media sosial berawal dari pikiran yang tidak terkendali, sehingga diperlukan kemampuan mengelola emosi untuk kehidupan yang harmonis.

RRI.CO.ID, Denpasar — Pengendalian pikiran menjadi hal penting dalam menghadapi derasnya arus informasi di era media sosial, karena berbagai komentar, perdebatan, dan informasi dapat dengan mudah memicu emosi serta konflik. Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Badung, Nengah Budiantara, dalam program Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Sabtu, 8 Agustus 2026, menjelaskan bahwa kemampuan mengendalikan pikiran merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan yang tenang dan harmonis.

Menurut Budiantara, media sosial memiliki banyak manfaat karena memudahkan komunikasi dan mempercepat penyebaran informasi, namun pengguna perlu menyadari tantangan berupa potensi munculnya emosi akibat informasi yang diterima. “Banyak perdebatan, kemarahan, bahkan permusuhan yang terjadi di media sosial sebenarnya berawal dari pikiran yang tidak terkendali,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam ajaran Hindu, pikiran memiliki posisi penting karena menjadi awal dari perkataan dan perbuatan manusia melalui konsep Tri Kaya Parisudha yang mengajarkan berpikir, berkata, dan berbuat yang baik. “Ketika sebuah pikiran mampu dilepaskan dari keterikatan emosional, persoalan yang sebenarnya kecil tidak akan berkembang menjadi konflik yang lebih besar,” katanya.

Budiantara mengajak masyarakat agar tidak terburu-buru memberikan respons ketika menemukan komentar atau pendapat yang memancing emosi di media sosial, melainkan berhenti sejenak, menenangkan diri, dan mempertimbangkan dampak dari kata-kata yang akan disampaikan. “Apakah balasan yang akan saya tulis ini akan membawa kebaikan, apakah kata-kata ini akan menyelesaikan masalah atau justru memperbesar konflik,” tuturnya.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut menambahkan, media sosial pada dasarnya hanyalah sebuah alat yang dapat digunakan untuk menyebarkan kebaikan maupun menjadi ruang pertengkaran, tergantung pada bagaimana manusia mengendalikan pikirannya. “Semoga kita semua dapat menggunakan media sosial dengan lebih bijaksana, menjaga pikiran tetap tenang, dan menjadikan setiap kata serta tindakan sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....