Kisah Men Badung, Pelopor Dalang Perempuan Pertama di Bali

  • 05 Agt 2026 21:40 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID,Denpasar : Dilansir dari berbagai sumber, dunia seni pedalangan Bali mencatatkan nama Ni Wayan Nodri, yang lebih akrab disapa Men Badung sebagai tokoh legendaris yang mendobrak batasan gender di ranah tradisi. Lahir dan menetap di Banjar Babakan, Desa Sukawati, Gianyar, ia sukses mengukir sejarah sebagai dalang perempuan (dalang luh) pertama di Pulau Dewata. Kehadirannya di atas panggung pewayangan menjadi simbol runtuhnya dominasi seniman laki-laki dalam kesenian yang dikenal kaku dan sarat pakem ritual tersebut.

Titik balik kehidupan Men Badung dimulai saat suaminya, I Ketut Madra seorang dalang berprestasi era 1970-an berpulang secara mendadak pada tahun 1979. Didorong oleh tanggung jawab besar untuk menghidupi anak-anaknya sekaligus melanjutkan warisan profesi sang suami, ia memantapkan diri untuk mendalami seni pedalangan secara total. Bermodalkan cita-cita masa kecil dan tekad yang kuat, Men Badung akhirnya dapat menguasai teknik memahat, menggerakkan wayang hingga menghafal rerontek cerita klasik.

Eksistensinya mulai diakui secara luas setelah ia tampil memukau mewakili Kabupaten Gianyar dalam Perlombaan Dalang Wanita se-Bali pada tahun 1980. Gaya bertuturnya yang khas, penokohan yang kuat, serta kemampuan melestarikan gaya vokal yang unik menarik perhatian para pengamat seni. Tidak butuh waktu lama bagi sang maestro untuk membawa seni wayang kulit Bali melintasi batas negara. Ia melakukan diplomasi budaya dan mementaskan karyanya di panggung internasional, seperti Jerman dan Jepang.

Dedikasi seni yang mengalir dalam tubuh Men Badung kini telah diwariskan dengan sukses kepada generasi penerus di keluarganya. Salah satu putranya, I Kadek Arimbawa yang populer dengan nama panggung Kadek Capung. Anaknya ini tumbuh menjadi seniman dalang profesional bergelar Sarjana Seni dari ISI Denpasar. Keberhasilan regenerasi ini membuktikan bahwa perjuangan Men Badung dalam membuka ruang kesetaraan gender di dunia pedalangan telah membuahkan hasil nyata yang diakui secara akademis maupun publik.

Kendati menyandang status sebagai maestro legendaris dengan rekam jejak internasional, Men Badung tetap menjalani kehidupan dengan penuh bersahaja. Di masa senjanya, ia memilih mengabdi pada realitas kehidupan sehari-hari dengan berjualan kebutuhan pokok (sembako) di Pasar Sukawati, Gianyar. Konsistensi sikapnya yang membumi ini mempertegas posisinya bukan sekadar sebagai penghibur di balik layar kelir, melainkan sebagai budayawan sejati dan penjaga moral yang meletakkan ketulusan di atas segalanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....