Jangan Mudah Menghakimi, Pahami Arti Kebenaran Sejati
- 05 Agt 2026 21:38 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Siaran Obrolan Galang Kangin edisi Selasa, 4 Agustus 2026, membahas tema Antara Benar dan Kebenaran dengan tujuan mengajak masyarakat memahami perbedaan konsep tersebut.
- Kebenaran sering kali dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan, dan cara pandang setiap individu, sehingga tidak ada satu kebenaran universal yang berlaku untuk semua orang.
- Ajik Tibah dan Beli Kejoer mengajak pendengar lebih bijaksana dalam menilai persoalan dan tidak mudah menghakimi orang lain berdasarkan sudut pandang pribadi dengan menggunakan contoh-contoh sederhana.
RRI.CO.ID, Denpasar – Siaran Obrolan Galang Kangin Edisi Selasa, 4 Agustus 2026, mengangkat tema Antara Benar dan Kebenaran dengan mengajak masyarakat memahami bahwa sesuatu yang dianggap benar belum tentu menjadi kebenaran yang berlaku bagi semua orang. Melalui pembahasan yang disampaikan dengan contoh-contoh sederhana, Ajik Tibah dan Beli Kejoer mengajak pendengar lebih bijaksana dalam menilai persoalan dan tidak mudah menghakimi orang lain berdasarkan sudut pandang pribadi.
Dalam siaran tersebut dijelaskan bahwa kebenaran sering kali dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan, dan cara pandang setiap individu. "Yang perlu kita cari bukan sekadar merasa benar, tetapi menemukan kebenaran," ujar Tibah.
Ia mencontohkan perbedaan istilah "benar" dan "kebenaran" melalui ilustrasi soal ujian di sekolah, di mana jawaban benar bersifat pasti, sedangkan kebenaran dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. "Kalau di soal ujian pilihlah jawaban yang benar, jawabannya hanya satu, tetapi kebenaran bisa dipandang berbeda oleh setiap orang," katanya.
Pembahasan juga menyoroti pentingnya menghindari kebiasaan saling menyalahkan dalam kehidupan bermasyarakat karena setiap orang memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Sikap terbuka terhadap pendapat orang lain dinilai menjadi kunci untuk membangun hubungan yang harmonis dan mengurangi konflik akibat perbedaan persepsi.
Selain itu, masyarakat diajak membiasakan introspeksi diri sebelum memberikan penilaian terhadap orang lain. "Jangan mengutamakan kebenaran menurut diri sendiri tanpa melihat sudut pandang orang lain," ungkap Kejoer.
Tibah dan Kejoer menambahkan bahwa apa yang terlihat oleh mata belum tentu menggambarkan kenyataan yang sebenarnya sehingga diperlukan kebijaksanaan dalam menyimpulkan suatu peristiwa. Ia mengingatkan bahwa penilaian yang tergesa-gesa sering kali melahirkan prasangka dan kesalahpahaman.
Melalui siaran tersebut, pendengar juga diajak mengedepankan sikap objektif dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan berbangsa. "Mari lebih banyak introspeksi diri daripada sibuk menyalahkan orang lain, karena dari sanalah kita belajar menemukan kebenaran yang sesungguhnya," pungkas Kejoer.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....