Gubernur Koster: Batur Sumber Peradaban Bali yang Wajib Dijaga Kesuciannya

  • 31 Jul 2026 15:29 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Bangli – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan kawasan Batur memiliki kedudukan penting dalam sejarah dan spiritualitas Bali sebagai salah satu sumber peradaban tertua di Pulau Dewata. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak menjaga, memuliakan, dan merawat kawasan tersebut agar nilai kesucian serta warisan leluhur tetap terjaga.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Koster saat mengikuti persembahyangan serangkaian Upacara Melaspas Purwa Mandala Pura Ulun Danu Batur dan Desa Adat Batur dalam rangka Paiketan Karya 100 Tahun (1926–2026) Rarud Desa Adat Batur di Titik Nol Desa Adat Batur Kuno, Kintamani, Bangli, Rabu 29 Juli 2026. Upacara yang bertepatan dengan Rahina Purnama Karo tersebut berlangsung khidmat dan menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah Desa Adat Batur sekaligus memperkuat komitmen menjaga kawasan yang diyakini memiliki nilai spiritual dan historis bagi masyarakat Bali.

Gubernur Koster mengapresiasi pelaksanaan pemlaspasan yang dilakukan bertepatan dengan hari baik. Menurutnya, setiap kegiatan adat dan keagamaan di Bali perlu tetap berpedoman pada nilai-nilai tradisi agar seluruh rangkaian berjalan harmonis dan selaras secara niskala.

Menurut Koster, Batur bukan hanya kawasan dengan keindahan alam Gunung Batur dan Danau Batur, tetapi juga memiliki posisi penting dalam kebudayaan Bali. Berdasarkan sastra Batur Kalawasan, wilayah Batur disebut sebagai salah satu sumber peradaban tertua di Bali.

"Batur ini adalah salah satu sumber peradaban tertua di Bali. Karena itu, orang Bali, apalagi pemimpin Bali, wajib hukumnya mengetahui tentang peradaban Bali dengan wilayah Batur di dalamnya," tegas Koster.

Ia mengatakan pemahaman terhadap sejarah dan nilai spiritual Batur menjadi dasar penting dalam menentukan arah kebijakan pembangunan. Menurutnya, pengelolaan kawasan tidak boleh hanya berorientasi pada pemanfaatan ekonomi, tetapi harus mengedepankan upaya mengayomi, melindungi, dan memuliakan warisan leluhur.

Koster juga mengajak masyarakat memahami Batur bukan sekadar sebagai tempat suci, melainkan sebagai sumber kesucian. Menurutnya, konsep tersebut memiliki makna yang lebih mendalam karena kawasan yang menjadi sumber kesucian diyakini mampu memberikan nilai spiritual dan kehidupan bagi lingkungan sekitarnya.

Meski demikian, ia menegaskan masyarakat tetap dapat memanfaatkan kawasan Batur sebagai sumber penghidupan sepanjang dilakukan dengan cara yang bijak dan tidak merusak keseimbangan alam maupun nilai kesuciannya. "Kalau sampai merusak, dampaknya luas. Kalau sumber peradaban di Gunung Batur ini kita rusak, auranya akan terganggu dan tidak akan lagi memancarkan kesucian," ujarnya.

Gubernur Koster menilai perlu ada penataan yang tepat antara kawasan yang memiliki nilai spiritual dengan ruang aktivitas ekonomi masyarakat. Kawasan sekitar Batur dapat dikembangkan sebagai ruang wisata dan aktivitas ekonomi dengan tetap menjaga batas serta menghormati kawasan yang memiliki nilai sakral.

Menurutnya, pelestarian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila pembangunan tetap berlandaskan nilai kesucian, kelestarian alam, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

"Yang utama adalah bagaimana kita merawat, menjaga, memuliakan, dan memajukan berbagai warisan leluhur yang adiluhung yang ada di sini secara totalitas. Kita harus kembali kepada nilai-nilai itu," kata Koster.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....